Minggu, Maret 06, 2016

Kekuatan Kepala Sekolah

Kepala Sekolah adalah seorang guru yang mendapatkan tugas tambahan sebagai memimpin suatu sekolah yang diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan menerima pelajaran.
Definisi secara etimologi, kepala sekolah merupakan padanan dari school principal yang tugas kesehariannya menjalankan principalship atau kekepalasekolahan. (Copas dari tulisan orang,maaf lupa sumbernya) piss...

Bagi saya, seorang kepala sekolah adalah seorang leader (bukan boss), penyemangat, dan pembimbing bagi guru dan seluruh warga sekolah.

Kata leader, bukan bos ini sangat saya tekankan.
Perlu diingat, kepala sekolah bukanlah satu - satunya orang yang menentukan kemana arah dan tujuan sekolah akan dibawa. Namun kepala sekolah adalah orang yang mengambil tanggung jawab terbesar dari proses yang ada di sekolah.
Proses itu seperti :
Bagaimana beliau menetapkan target bagi guru - guru di tempatnya bekerja,
Bagaimana beliau menjalankan proses pembimbingan dan pengaturan atas apa yang terjadi di sekolahnya,
Bagaimana beliau menjalankan sisi sebagai seorang bapak bagi teman - temannnya,
dan lain sebagainya.

Jelas, proses itu semua membutuhkan sebuah keterampilan, dan memang menjadi kepala sekolah melewati proses seleksi yang panjang. Namun, terkadang ketidaksamaan visi dari kepala sekolah akan membuat runyam sekolah yang ditempatinya.
Saya pernah menjadi anak didik kepala sekolah di sebuah sekolah swasta, dan sekarang saya dididik dan dibina oleh kepala sekolah di sekolah negeri.
Perbandingan ini jelas tidak membutuhkan banyak waktu untuk dipertentangkan. Karena memang banyak faktor yang membuatnya tidak bisa dibandingkan.
Namun, setidaknya saya mengamati, ada beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah.

Keteladanan
Bagi seorang leader di sebuah instansi, keteladanan adalah faktor yang paling bisa diamati secara kasat mata oleh siapapun. Sebuah contoh berjalan (uswatun khasanah) dari seorang kepala sekolah adalah patokan awal untuk bersikap dan dilaksanakan oleh orang yang berada di bawahnya.
Sebuah keteladanan yang murni, tanpa dibuat - buat, tanpa direkayasa, dan terjaga sepanjang waktu.
Bukti dari keteladanan itu adalah satunya perkataan dan perbuatannya.
Tanpa mengesampingkan faktor ke"manusia"an seorang kepala sekolah yang pasti akan mengalami titik jenuh, tergeser dari apa yang telah digariskannya sendiri lewat peraturan dan kebimbangannya dalam menyelesaikan masalah, apapun yang dilakukan kepala sekolah akan menjadi buah bibir dan suri tauladan bagi anak buahnya di sekolah.
Maka dari itu, seorang kepala sekolah hendaknya mampu "bermuka dua". Muka yang pertama adalah sebagai wajah dari seorang pemimpin instansi dan muka yang kedua adalah seorang ayah yang sayang kepada keluarganya.

Komunikasi
Komunikasi ini terbagi menjadi dua yaitu intern dan ekstern.
Komunikasi internal kepada warga sekolah baik itu guru, karyawan atau murid dan komunikasi eksternal kepada masyarakat dan dinas pendidikan.
Kedua komunikasi itu haruslah dijaga dengan baik.
Seorang kepala sekolah harus bisa banyak "MENDENGAR" dibandingkan dengan "BERKATA".
Mendengarkan apa yang dirasakan oleh keluarga di sekolah dan luar sekolah.
Baru kemudian berkata dan mengambil sikap untuk menindaklanjuti apa yang didengarnya.
Seorang kepala sekolah mungkin harus rela pulang paling akhir untuk bisa mendengarkan curhat seorang guru atau bahkan siswa ketika memang ada masalah yang terjadi pada mereka.
Kunci keberhasilan seoang kepala sekolah adalah komunikasi yang terjalin erat.

Mengajak bukan Memerintah
Setelah bisa memberikan keteladanan dalam sikap dan perkataan serta mampu mengkomunikasikan segala yang berkaitan dengan sekolah kepada pihak - pihak yang berkepentingan, seorang kepala sekolah harus mampu "MENGAJAK" seluruh keluarganya untuk bergerak sesuai dengan insturksinya.
Sekali lagi MENGAJAK bukan MEMERINTAH.
Ketika seseorang mengajak orang lain, maka orang tersebut akan menemani, memberikan bimbingan, mengingatkan, dan melengkapi kekurangan orang yang diajaknya. Begitupun kepala sekolah.
Banyak menemani kegiatan luar sekolah adalah salah satu contohnya. Seorang kepala sekolah yang pasti jam mengajarnya sedikit karena tugas di luar sekolah harus memanfaatkan kegiatan luar sekolah sebagai media untuk dekat dan mengawal langsung apa yang menjadi program sekolahnya.
Istilah keren sekarang adalah blusukan. Melihat langsung apa yang terjadi pada sekolahnya.
Itu sih sudah beberapa kali dicontohkan presiden kita yang sekarang.
Namun hal yang harus disadari, hadirnya kepala sekolah di luar jam sekolah bagi guru dan murid itu sangat spesial. Kesan angker kepala sekolah akan hilang seiring obrolan - obrolan kecil dengan siswa dan pembimbing kegiatan. Coba saja kalau tidak percaya....

Tidak boleh rentan kritik
Dahlan Iskan dalam wawancara dengan Andy F Noya pernah berkata, "jangan pernah sekali - kali melawan atasan, karena itu berarti kematian seoang bawahan".
Butuh keberanian bagi seorang guru untuk memberikan masukan kepada kepala sekolahnya.
Bahkan mungkin ketika diminta sekalipun.
Hee,,,
Itulah yang kebanyakan terjadi.
Namun berbeda, ketika komunikasi antara kepala sekolah dan guru berjalan dengan baik, maka segala saran bahkan kritik akan tersampaikan dengan baik.
Secara gampang, guru adalah pelaksana lapangan bagi program sekolah. Guru lah yang mengerti kekurangan dan hal - hal yang dibutuhkan untuk mensukseskan program sekolah. Maka dari itu, masukan dan kritik dari guru ini adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh kepala sekolah untuk mendatangkkan kesukseskan progam sekarang dan menyusun program yang lebih baik di waktu yang akan datang.

Masih banyak sebenarnya yang harus dimiliki kepala sekolah, namun minimal hal hal diatas yang bisa saya jabarkan sekarang.
semoga bermanfaat bagi para kepala sekolah, dan calon kepala sekolah di masa yang akan datang.
Pesan saya, JADI KEPALA SEKOLAH, SIAPA TAKUT??
_kiriman artikel saya yang tidak pernah terbit di surat kabar... heee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar