Sabtu, Januari 21, 2017

Pengayaan Matematika SMP Materi Bangun Datar

Tujuan utama pemberian pengayaan adalah memperkaya pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi matematika. Sasaran utama pengayaan matematika adalah siswa yang telah tuntas dalam mempelajari salah satu materi matematika.
Berikut adalah salah satu pengayaan matematika untuk materi Bangun Datar Kelas VII dan VIII

Media Pembelajaran Himpunan

Untuk mempermudah dalam mengerjakan soal himpunan pada Ujian Nasional, kami menyediakan media pembelajaran yang dapat membantu siswa. Media pembelajaran yang kami siapkan berbentuk power point. Silahkan disimak di bawah ini :



Semoga bermanfaat

Jumat, Januari 20, 2017

Peraga Matematika Sederhana

Bilangan pecahan, merupakan salah satu dari materi yang membutuhkan alat peraga. Alat peraga berfungsi sebagai bantuan untuk menyatakan pecahan dalam bentuk yang riil. Hal ini dikarenakan bilangan pecahan merupakan salah satu materi yang baru di kelas 3 SD sehingga harus didasari dari hal yang nyata sehingga mampu memberikan dasar untuk materi selanjutnya. Dulu, ketika masih kuliah di UNY, kami pernah membuat dan mewujudkan beberapa alat bantu dalam operasi hitung pecahan sederhana. berikut adalah beberapa gambarnya.

1. CAKRAM PECAHAN 





2.  BALOK PECAHAN

3. LEMPENG DISCARD PECAHAN





Itulah beberapa alat peraga yang pernah kami buat semasa kami masih kuliah. Untuk penggunaan hampir semua sama dengan garis bilangan di buku panduan kelas 3 SD, namun alat peraga ini lebih nyata, sehingga mampu memberikan gambaran yang lebih jelas bagi siswa.

Ukuran Sistem Satuan Internasional

Sistem Satuan Internasional (nama aslinya dalam bahasa Perancis: Système International d'Unités atau SI) adalah bentuk modern dari sistem metrik dan saat ini menjadi sistem pengukuran yang paling umum digunakan. Sistem ini terdiri dari sebuah sistem satuan pengukuran yang koheren terdiri dari 7 satuan dasar. Sistem ini mendefinisikan 22 satuan, dan lebih banyak lagi satuan turunan. Sistem ini juga memunculkan satu set terdiri dari 20 prefiks pada nama dan simbol satuan yang dapat digunakan untuk perkalian dan pembagian satuan.
Sistem ini dipulikasikan pada tahun 1960 sebagai hasil dari inisiatif yang dimulai tahun 1948. Pada awalnya sistem ini merupakan sistem MKS, yaitu panjang (meter), massa (kilogram), dan waktu (detik/sekon). SI ditujukan menjadi sistem yang berkembang, maka prefiks dan satuan dibuat dan definisi satuan dimodifikasi melalui persetujuan internasional seiring teknologi pengukuran berkembang dan presisi pengukuran meningkat. Konferensi Umum tentang Berat dan Pengukuran (General Conferences on Weights and Measures, CGPM) ke-24 dan 25 tahun 2011 and 2014, misalnya, mendiskusikan proposal untuk mengubah definisi kilogram, menghubungkannya ke invarian alam daripada massa sebuah artefak, sehingga memastikan stabilitas jangka panjang.




Keterangan :
1.       Definisi interim dituliskan disini hanya jika ada perbedaan signifikan dalam definisinya.
2.       Meskipun ada awalan "kilo-", kilogram adalah satuan dasar massa. Kilogram, bukan gram, digunakan dalam definisi satuan turunan.
3.       Pada tahun 1954 satuan temperatur termodinamik adalah "derajat Kelvin" (simbol °K; "Kelvin" dengan huruf "K" besar). Kemudian dinamai ulang "kelvin" (simbol "K"; "kelvin" ditulis dengan huruf "k" kecil) tahun 1967.
4.       Ketika mol digunakan, partikel elementer harus disebutkan dan dapat berupa atom, molekuls, ion, elektron, atau partikel lain.
Definisi awal dari berbagai satuan dasar pada tabel diatas dibuat oleh otoritas  :  
FG = Pemerintah Perancis ; 

Sumber : Wikipedia




Penguji Pembagian

Sebelum melakukan pembagian, kita dapat melakukan penguji pembagian terhadap suatu bilangan yang dibagi oleh beberapa bilangan tertentu. Terdapat sifat khusus yang dapat mempercepat penentuan suatu bilangan habis terbagi dengan suatu bilangan lain atau tidak. Berikut adalah beberapa penguji pembagian.
a. Dibagi 2 
    Suatu bilangan habis dibagi 2 jika angka terakhir(satuan) dari bilangan tersebut genap.
    Contoh :
    1.284 habis dibagi 2 karena satuannya yaitu 4 merupakan bilangan genap

b. Dibagi 3
    Suatu bilangan habis dibagi 3 jika jumlah angkanya habis dibagi 3.
    Contoh :
    32.493 habis dibagi 3 karena jumlah angkanya 3 + 2 + 4 + 9 + 3 = 21. 21 habis dibagi 3.

c. Dibagi 4
    Suatu bilangan habis dibagi 4 jika dua angka terakhirnya habis dibagi 4.
    Contoh :
    6.828 habis dibagi 4 karena dua angka terakhirnya yaitu 28 habis dibagi 4.

d. Dibagi 5
    Suatu bilangan habis dibagi 5 jika satuannya 0 atau 5
    Contoh :
    1.250 habis dibagi 5 karena satuannya 0.

e. Dibagi 6
    Suatu bilangan habis dibagi 6 jika jumlah angkanya habis dibagi 6.
    Contoh :
    1.524 habis dibagi 6 karena jumlah angkanya 1 + 5 + 2 + 4=12. 12 habis dibagi 6.

f. Dibagi 8
    Suatu bilangan habis dibagi 8 jika tiga angka terakhirnya habis dibagi 8.
    Contoh :
    7.240 habis dibagi 8 karena tiga angka terakhirnya yaitu 240 habis dibagi 8

g. Dibagi 9
    Suatu bilangan habis dibagi 9 jika jumlah angkanya habis dibagi 9.
    Contoh :
    3.276 habis dibagi 9 karena jumlah angkanya 3 + 2 + 7 + 6 = 18. 18 habis dibagi 9.

h. Dibagi 11
    Suatu bilangan habis dibagi 11 jika selisih jumlah angka pada urutan genap dengan jumlah angka
    pada urutan ganjil habis dibagi 11.
    Contoh :
    218.493 habis dibagi 11 karena
          jumlah angka urutan genap 3 + 4 + 1 = 8
          jumlah angka urutan ganjil 9 + 8 + 2 = 19
          selisih : 19 - 8 = 11. 11 habis dibagi 11. 

Kamis, Januari 19, 2017

Pengayaan Matematika SMP Materi Bilangan Bulat dan Pecahan

Tujuan utama pemberian pengayaan adalah memperkaya pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi matematika. Sasaran utama pengayaan matematika adalah siswa yang telah tuntas dalam mempelajari salah satu materi matematika.
Berikut adalah salah satu pengayaan matematika untuk materi Bilangan Bulat dan Pecahan Kelas VII





Perhatian : 

Untuk mendapatkan soal di atas, lengkap dengan penjelasan dan pembahasannya, silahkan tuliskan email anda ke kolom komentar atau kirimkan email ke jatiprasetiawan@gmail.com dengan judul "Pengayaan SMP Materi Bilangan Bulat dan Pecahan".
Sharing materi akan dilakukan secara rutin setiap hari Minggu. 
Insya Allah semua GRATIS dan Tanpa Biaya

Rabu, Agustus 24, 2016

Jangan Takut Ganti Menteri

Belum lama Pak Anies Baswedan digantikan Pak Muhajir Effendi. Ikut kena resufle kabinet jilid II katanya, bareng beberapa menteri lain.
Banyak temen guru yang khawatir sebenernya, ganti menteri ganti kebijakan, mungkin juga ganti kurikulum. Tapi sebenarnya, gantinya menteri itu bukan hal yang menakutkan bagi guru dan pelaku pendidikan. Karena sebenarnya guru itu mandiri dan fleksibel, kenapa?
Guru itu mandiri, mau siapapun menterinya. Ga percaya? Siapapun menterinya, presiden di kelas tetaplah guru. Menteri kan pembantunya presiden ya? Mana mungkin menteri berani sama presiden kalau bukan menteri pengen minta di resuffle? hahahaa..
Jujur saja, cara mengajar guru tidak banyak berubah walaupun menterinya berubah, atau kurikulumnya berubah. Karena memang guru yang lebih tahu dan lebih mengerti murid - muridnya. Guru yang bisa mengerti bagaimana cara terbaik materi itu masuk ke otak murid. Jadi, so far so good lah.... KBK, KTSP, K 13, bahkan CBSA 1984 mungkin akan berubah sesuai kebutuhan murid di tangan gurunya. Yang penting tujuan pembelajaran tercapai kan? Siswa juga enjoy mengikuti pembelajaran kan? ya,,, itulah kehebatan presiden. Presiden di kelas, yaitu guru.
Guru itu fleksibel, jelas kan dari uraian di atas?
Lebih fleksibel lagi, guru lah yang bisa menggerakkan siswa untuk belajar di luar jam pelajaran.
Tinggal kasih tugas, PR, atau proyek pembelajaran. Maka siswa akan dengan [terpaksa] senang hati belajar lebih banyak untuk itu. SABDA PANDITA RATU istilahnya.
Baru tadi pagi saya mendapatkan penuturan, betapa perintah guru sangat menancap di hati siswa.
Seorang ibu wali murid kelas 3 mengatakan bahwa mulai hari senin kemarin, anaknya tidak mau diantar lebih dari gerbang sekolah. Karena guru kelasnya ingin siswanya mandiri. Padahal selama ini anak itu tidak mau sekolah kalau ibunya tidak masuk ke kelas. hehe... Siswa itu lebih nurut dengan guru dari pada ibunya sendiri.
Ibunya senang sekali mendapatkan kenyataan seperti itu. Alhamdulillah katanya. Anaknya lebih mandiri sekarang.

Maka dari itu, wahai para guru,, jangan takut berganti menteri bahkan berganti presiden. Kitalah presiden bagi siswa kita. Kitalah yang berkuasa. Tapi jangan sampai kita salah dalam mengajar, harus selalu meningkatkan kualitas diri. Jangan lupa komunikasi yang baik dengan siswa dan wali siswa, sehingga seluruh kegiatan yang direncanakan tepat sasaran atau mungkin kesalahan kita dapat segera diperbaiki demi kepentingan para rakyat kita. Rakyat kita adalah para siswa. Ingat,, suara rakyat adalah suara Tuhan.

ha ha ha

Bulan padat Kegiatan

Dalam satu tahun ajaran telah ditentukan bahwa dibagi dalam dua semester. Setiap semester minimal terdapat 16 minggu efektif untuk menyampaikan materi kepada siswa. Dalam setiap minggu terdapat minimal 37,5 jam pelajaran yang harus dipenuhi guru secara kolektif untuk siswa di sekolah.
Namun disadari atau tidak, pelaksanaan di lapangan nyata tidak semulus dan semudah itu.
Mungkin kita perlu untuk mengevaluasi bersama dan mencari jalan tengah yang terbaik bagi kita.
Setidaknya di setiap semester terdapat beberapa kegiatan yang padat dan menyebabkan kegiatan belajar mengajar di sekolah "kurang" efektif. Semester satu (ganjil) biasanya dimulai di bulan Juli - Desember. Semester ini terdapat beberapa kegiatan yang memadatkan kegiatan guru dan siswa di sekolah seperti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) dulu juga disebut MOS, rangkaian lomba agustusan. Terkadang, guru dan siswa tersadar kalau waktu UTS sudah dekat. hehe... Di awal tahun sibuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, dan kemudian dilanjutkan dengan kebahagiaan dalam rangkaian lomba. _seperti saya tahun ini..
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Memang banyak sekali kegiatan dalam rangkaian dua kegiatan tersebut. Bukan hanya gurunya yang sibuk dengan dirinya sendiri sebagai seorang makhluk individu nasionalis dan seorang yang diberi amanah di sekolah, namun juga mempersiapkan rangkaian event tahunan ini bagi siswanya. Untuk satu kegiatan karnaval di lingkungan kecamatan misalnya, akan membutuhkan berminggu - minggu waktu latihan. Untuk satu kegiatan kesenian/latihan sebagai petugas paskibraka di lingkungan kecamatan juga menyedot waktu minimal 3 minggu efektif. Ada sebuah kewajiban yang tertanggung di pundak guru dan siswa selain belajar dan mengajar di sekolah. Apalah lagi kalau sekolah kita adalah sekolah inti dan sekolah terdekat dengan pusat pemerintahan kecamatan/kabupaten.
Padahal Ulangan Tengah Semester akan datang 3 atau 4 minggu setelah kegiatan ini selesai. Luar biasa bukan? 
Untuk beberapa sekolah ini berat, karena ingin mengejar materi untuk UN dan try out yang diadakan di awal - awal bulan di semester dua.
Lanjut...
Semester dua biasanya datang setelah rangkaian diklat persiapan  dan bedah kisi - kisi ujian nasional di saat saat libur semester ganjil. Jelas.. guru tidak libur ketika siswa libur. hffttt
Semester dua (genap) ini biasanya diwarnai dengan "kejar-kejaran" antara sekolah dan jadwal dari dinas. Sekolah yang tidak bersiap siap sejak dini akan tersiksa dengan jadwal try out untuk kelas akhir dari dinas. Belum lagi kegiatan UTS, Ujian Sekolah, Ujian Praktek, dan persiapan Ujian Nasional.
Try Out UN biasanya lima kali dalam waktu 16 minggu (yang tidak lengkap) paruh kedua tahun ajaran. Padahal, materi semester dua kebanyakan belum selesai ketika try out pertama dilaksanakan. Ini kejar - kejaran yang pertama.
UTS, Ujian Sekolah, dan Ujian Praktek biasanya maraton. Sekolah harus menyiasati dengan memberikan waktu tambahan belajar agar semua hasil Ujian tersebut stabil bagi sekolah dan siswa. Ini kejar - kejaran yang kedua.
Jadwal dari dinas. Ini faktor utama. Sekolah harus segera mendapatkan seluruh jadwal kegiatan di atas di awal waktu. Sehingga perencanaan dan pelaksanaan seluruh kegiatan dapat tersusun dengan baik.
Lelah, mungkin.
Jenuh, mungkin.
Namun itulah yang terjadi di setiap tahun ajaran.
hehee...
Guru dan siswa di garda depan pelaksanaan kegiatan harus sangat siap dan selalu termotivasi untuk mencapai hasil terbaik.
Selamat bekerja para guru
dan Selamat bermotivasi para siswa

Kamis, Mei 12, 2016

Nasib Pramuka

sumber: google.com

Sebagai siswa sekolah Negeri, pastinya akrab dengan kegiatan pramuka. Bahkan sejak SD saya mengikuti beberapa kegiatan pramuka yang diadakan sekolah dan kwarran/kwarcab di tempat saya. Mulai dari persami, menjadi anggota Dewan Penggalang(DP), beberapa kali mewakili smp dalam kegiatan pramuka di kabupaten, sampai menjadi calon Dewan Ambalan di SMA_mengundurkan diri karena merasa tidak mampu hehee. Dan sekarang saya menjadi pembina pramuka di sekolah saya.

Semakin hari, saya semakin merasakan bahwa nilai - nilai luhur pramuka semakin kurang dirasakan oleh siswa yang melaksanakan kegiatan itu sendiri. Pramuka hanya sebagai sebuah kegiatan ekstrakurikuler wajib yang dilaksanakan rutin oleh sekolah. Apa yang salah dengan pramuka?

Mungkin ini hanya dirasakan kami yang berada di daerah pelosok desa (semoga...)
Semoga sekolah yang berada di pusat kota mampu mengemas kegiatan pramuka ini lebih menarik dan menjadikannya bermanfaat dibandingkan apa yang terjadi di tempat kami.

Sejujurnya, pramuka memberikan kesempatan bagi siswa untuk hidup mandiri, kreatif, dan mempunyai nilai sosial yang tinggi. Sesuai dengan dasa darma dan trisatya/dwidarma yang menjadi nilai pokok dari pramuka.

Stigma bahwa pramuka adalah kegiatan yang "rutin" semakin menjadi ketika pramuka hanya terdiri dari materi sandi dan sejarah pramuka, sekali waktu diselingi dengan jalan - jalan (wide game/outbond) sembari melaksanakan pramuka sehari semalam. Hal ini merupakan pendapat yang disampaikan oleh murid saya beberapa waktu yang lalu.

Kembali kita bertanya, apa yang salah dengan pramuka?
apa yang salah dengan pramuka?
nasib pramuka? mau di bawa kemana?

Selasa, Mei 03, 2016

Momen [sedih] yang Rutin

1 April 2015, pertama kali saya menginjakkan kaki di Cemoro, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung.

7 April 2015, pertama kali saya mengajar kelas IX SMP Negeri 2 Wonoboyo Satu Atap.

Dari sanalah saya mulai melihat pendidikan secara utuh. Tidak hanya berpaku pada pengalaman saya sebagai pengajar di SD Muhammadiyah Sleman. Kondisi yang sangat jauh berbeda. Kondisi yang selama ini hanya menjadi gurauan saya bersama ayah dan ibu saya ketika bercerita tentang kondisi sekolah kami masing - masing.

Suatu jalan akan terlihat lebih terang ketika menuju akhir. Bayangan untuk istirahat, untuk berhenti, dan duduk mungkin membuat kita melihat semuanya menjadi lebih jelas.

Mungkin seperti itulah kebanyakan siswa saya.
Ketika sudah jelas ujung perjalanan sekolah mereka, yaitu UN. Mulai jelaslah sikap mereka tentang bagaimana melihat hidup setelah sekolah.
Anak yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, akan bersemangat untuk mencari bekal sebanyak - banyaknya (nilai UN terbaik) sebagai modal ke SMA/SMK/STM.
Namun..
Anak - anak yang tidak melanjutkan sekolah lagi, di sanalah dia akan menemukan suasana yang kurang nyaman.
Bayangan hilangnya masa bersama teman - teman, bercanda, dan bermain bersama
Bayangan berhentinya kegiatan rutin selama minimal 9 tahun dilakukan, yaitu berjalan ke sekolah
Bayangan gerbong baru perjalanan hidup mereka, yaitu bekerja di manapun
Bayangan (mungkin) berpisah dengan orang tua karena bekerja di luar daerah
Bayangan berpijaknya mereka menjadi orang yang harus dewasa di usia yang muda
dan bayangan lain yang ada di kepala mereka.

Inilah Momen sedih yang sudah rutin dirasakan oleh kami, para gurunya
Momen ketika memang tidak banyak yang bisa kami berikan kepada mereka.
Hanya semangat,
Seperti dua hari yang lalu, ketika saya kembali mengulang kata - kata semangat kepada mereka. Kata - kata yang setahun lalu,  pertama kali saya ucapkan kepada kakak kelas mereka sebelum UN

Pesan yang saya ulang - ulang di hari itu adalah "Kembalilah ke sini, bawa prestasimu, bawa ceritamu bertahan hidup, yang paling penting, bawa anakmu kembali ke sini. Jangan sampai anakmu cuma lulusan SMP seperti kalian. Harus lebih baik dari kalian. Kalau kalian hanya bisa beli satu sepeda motor atau HP, maka anak kalian harus bisa beli dua atau tiga barang tersebut. Dengan uang mereka, dengan kemampuan mereka sendiri."

Entah masuk ke hati mereka atau tidak, entah mereka mengerti yang saya ucapkan atau tidak, entah mereka suka atau tidak, bismillah. Semoga suatu saat nanti,
ada menteri bernama Tegar Ngesti Pradipta, atau Tanti Rahayu, atau Rina Kurniawati, atau Thomas Icuk Nugroho.
Ada pengusaha sukses bernama Santiyah, Lissa Aldira Putri, atau Agus Setyoko.
Ada nama - nama sukses lain seperti Samak Aji, Mugi Panuntun, Purwanti, atau Wiwin Royhan
dan nama - nama lain dari kelas IX SMP Negeri 2 Wonoboyo Satu Atap tahun ajaran 2015/2016

Semoga saja.
Aamiin

_5 hari sebelum UN SMP 2015/2016

Jumat, April 15, 2016

Internet dan anak

Di zaman terakhir ini, buku semakin ditinggalkan. Perpustakaan semakin sepi, anak - anak lebih senang bermain dengan gadgetnya masing - masing dibandingkan datang ke perpustakaan. Popularitas perpustakaan seakan tenggelam sebagai pusat ilmu dan sumber belajar anak.
Hal ini bukanlah hal yang merisaukan bagi sebagian wali murid dan guru. Katanya anak - anak mampu belajar dari mana saja. Tidak harus dari buku. Bisa lewat internet dan games katanya.. _apa iya?

Internet memang merupakan idola di zaman sekarang. Semuanya ada di internet. Namun internet juga menggoda penggunanya untuk bermalas - malasan dengan segala fiturnya. Facebook, bbm, wa, bahkan berita - berita hoax yang berantai merupakan suguhan keseharian di internet.

Internet tidak jahat, namun butuh dinding yang kokoh agar tidak merusak penggunanya. Seperti sepeda motor yang digunakan oleh orang yang tepat dan mengerti rambu - rambu lalu lintas. Orang yang asal dan ugal - ugalan akan membahayakan dirinya sendiri dan orang di sekitarnya. Itulah perumpamaan dari internet.

Orang tua harus sangat selektif dan intensif mengawasi penggunaan media internet ini. Anak - anak pengguna internet seperti orang yang naik sepeda motor dan belum tahu kemana jalan yang benar. Jalan yang membuatnya sampai ke tujuan dan tidak tersesat. Tugas orang tua dan orang dewasa di sekitar anak tersebut adalah sebagai rambu - rambu jalan bagi pengguna motor. Harus dipatuhi. Bukan hanya sebagai monumen usang di pinggir jalan. Karena sekali merasakan "kenikmatan jahat" dari internet akan membuat anak tersebut ketagihan. Orang tua harus berperan seolah - olah polisi tidur yang memberikan tanda agar berjalan pelan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dalam penggunaan internet.

Internet adalah media yang baik, jelas.
Banyak soal, banyak pengalaman, banyak media yang membuat anak kreatif dan tumbuh sesuai dengan zaman mereka sekarang. Internet lah yang menghasilkan orang - orang hebat seperti penulis best seller Raditya Dika, karena buku awal Raditya Dika adalah hasil dari cetakan blognya.

Namun internet juga bisa jahat, ketika anak mampu menggunakannya di luar kontrol dan tanpa pengawasan. Banyak anak yang meniru kegiatan yang dibaca, dilihat, dan biasa didengar dari internet. Seperti mesin fotokopi, anak akan menyimpan segala yang didapatnya di Internet. Jika anak tidak mampu memfilter apa yang didapatnya dengan baik hasilnya akan sangat mengerikan.


Kita bersyukur dengan digagasnya Internet positif oleh kominfo. Minimal penggunaan negatif dari internet bisa berkurang. Namun, itu tidak boleh mengurangi pengawasan terhadap para pengguna muda internet. Mari bersama - sama menggunakan internet dengan bijak

Selasa, April 05, 2016

The Angkringans

Hari ini tidak ada yang berbeda. Walaupun saya sekarang berada di Temanggung, kebiasaan saya untuk nongkrong tidak berubah. Angkringan adalah tempat favorit saya untuk makan dan nongkrong sejenak. Sekedar bertemu dengan orang – orang baru, mengobrolkan sesuatu hal yang berbeda dari biasanya, dan mengamati beberapa hal “tidak biasa” di pinggir jalan. Tidak ada yang meributkan soal status sosial di sana. Semuanya berbaur dalam suasana kekeluargaan dan persahabatan yang kental.

The Angkringan
Angkringan di rumah saya disebut “Kucingan”. Walaupun sebenarnya belum tentu ada kucing di sana, yang ada hanya “Nasi Kucing” dan kawan – kawannya. Sate usus, sate ati dan ampela, sate telur puyuh, dan yang hampir selalu ada di setiap angkringan, benda bernama gorengan. Jika diamati sekilas memang angkringan biasanya terlihat kotor, karena pelanggan biasanya membuang sisa makananya di bawah gerobak. Namun para pelanggan HIK (Hidangan Istimewa ala Kampung, sebutan angkringan di Solo) tidak bermasalah dengan semua itu. Bahkan banyak dari mereka rela duduk beralaskan tikar di trotoar dan tanah lapang dan berdesakan dengan pelanggan yang lain.

Saking istimewanya angkringan untuk saya, setahun terakhir saya punya hobi mampir di angkringan yang saya lewati di sepanjang jalan Temanggung – Yogyakarta. Sampai akhirnya saya menemukan beberapa keunikan dari angkringan.

Tiga Ceret
Hampir di setiap angkringan jarang ditemukan tempat air minum selain ceret. Jumlahnya pun kebanyakan tiga. Selalu diletakkan di samping kanan gerobak angkringan dengan ditemani tungku arang yang selalu menyala. Kata teman saya, itu perintah “dari sononya”. Hehe. Mungkin itu SOP untuk para penjual angkringan.

Coklat
Coklat yang saya maksud bukan makanan manis yang biasa kita makan, namun angkringan sangat berkaitan dengan para COKLAT, yaitu COwok KLATen. Banyak sekali mas – mas penjual angkringan berasal dari daerah Klaten. Bahkan pernah saya temui angkringan di depan Ruko Tanjung, Magelang adalah seorang anak dari Klaten yang usianya baru 14 tahun. Namun jangan tanya kemampuannya meracik susu jahe atau jahe anget. Mantap. Angkringan di pertigaan Grompol, sebelah utara UGM menggambarkan uletnya penjualnya. Setiap hari beliau menempuh Yogya – Klaten untuk berjualan.

Souvenir Angkringan
Jangan pernah berpikir souvenir yang saya maksud adalah mug bertuliskan terima kasih telah datang ke angkringan saya, gantungan kunci, atau souvenir lain ala pesta pernikahan. Namun souvenir angkringan ini adalah oleh – oleh yang unik di beberapa angkringan. Angkringan di sebelah Masjid Agung Temanggung punya souvenir yang unik. Souvenirnya berupa film gratis. Kalau anda pecinta film baru yang up to date, silahkan coba ke sana. Temui Mas Arga dan mulailah minta film kepadanya di jam 16.00 sampai malam. Dia akan dengan senang hati untuk memberikan film barunya kepada anda. Gratis – tis... Angkringan mas – mas yang akun facebooknya “LightAruga si Jantung Badai” ini adalah angkringan yang paling favorit bagi saya di Temanggung.
Souvenir lain yang unik adalah jual beli barang bekas yang ada di Angkringan Mbah Kethip di perempatan Srumbung, Muntilan. Dulu di belakang angkringan tersebut ada papan tulis whiteboard yang bertuliskan barang – barang bekas, mulai dari HP, motor, sampai pernah mobil kalau tidak salah. Menu unggulan di angkringan ini adalah Teh Hangat Gula Batu. Hmm Joss!

Angkringan Modern
Angkringan modern sekarang banyak ditemui di Yogya. Ada angkringan Bambu di jalan Kronggahan – Cebongan yang bersih dan nyaman. MA (Market Angkringan) 1, 2, dan 3. Ga cuma Pamela yang punya cabang sampai tujuh. Namun MA sudah punya tiga cabang. Pusatnya ada di Pangukan, Sleman. Mantapnya angkringan ini adalah harganya yang super murah dan super lengkap. Bahkan di sana ada nasi wader, nasi paru, sampai nasi merah. Angkringan lainnya adalah KRINGKRONG di jalan Damai yang mengkonsep angkringan dengan segala fasilitas yang keren.

Beberapa angkringan lain memang tidak kalah istimewa bagi saya. Mulai dari makanan, penyajian, dan gaya khas dari penjualannya.
-    Angkringan Pak Panut di depan GOR Klebengan harganya super murah dengan gaya menghitung yang khas. Makananya juga murah. Kalau mau makan dengan puas, datanglah jam 9 malam ke atas. Kita akan disuguhkan nasi hangat dengan bakaran gorengan yang mantap.
-    Angkringan di sebelah barat Kolam Renang UNY, makanan khasnya adalah bakaran ayam yang mantap. Harganya mantap dan selalu penuh dengan mahasiswa yang ngobrol dengan nyaman di trotoar bertemankan asap knalpot.
-    Angkringan kedua di kanan jalan arah Cebongan dari perempatan Kronggahan. Menu khas di sini beda dengan yang lain, yaitu sego wiwit. Menu khas yang baru saya temui di angkringan ini.
-    Angkringan di seberang BRI Muntilan. Di sana kita bisa merasakan tempe mendoan yang khas. Lebar, garing, dan gurih. Yummyyy
-    Angkringan di alun – alun Magelang. Kita bisa makan nasi bakar yang dibungkus daun pisang seperti lontong. Walaupun akhir – akhir ini saya jarang melihat deretan angkringan ini. Sepertinya mereka dipindahkan ke tempat lain.

Bagi saya angkringan penyatu hati lewat hidangan. Hidangan raga dan hidangan jiwa. Hubungan berbanding lurus antara kenyangnya perut dan nyamannya jiwa.
Ada yang punya angkringan favorit lain??

Senin, Maret 21, 2016

Guru dan Gelar

Tulisan ini murni pendapat pribadi jadi sebelumnya mohon maaf apabila banyak yang kurang sepakat dengan saya atau malah benar - benar tidak setuju dengan pendapat saya.

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang guru yang mengeluh dengan beratnya pekerjaan. Beliau harus menempuh pendidikan lanjutan karena masih lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang setara SMA. Sedangkan sekarang guru minimal harus S-1.

Kalau tidak, beliau akan dihilangkan tunjangan profesionalnya, di kantorkan, bahkan katanya ada rumor untuk di pensiun dini. #entah benar atau tidak...

Di tempat beliau bekerja sudah banyak guru yang mempunyai gelar S-1. Bahkan ada yang sedang menempuh S-2. Sedangkan beliau dengan beberapa temannya masih menempuh S-1. Uniknya, para guru yang sudah bergelar S-1 ke atas tersebut tidak berkenan untuk mengajar di kelas VI karena kesibukan, belum punya pengalaman, atau tidak berani mengambil tanggung jawab sebagai guru kelas VI.
Sudah sekian kali beliau ingin turun ke kelas yang lebih rendah, namun terganjal tidak adanya SDM yang berkenan untuk menggantikannya. Sekolah pun seakan mengamini. Bahwa posisi guru kelas VI memang hanya cocok untuk beliau. Bukan guru yang lain. 
hee..

Itulah resiko pekerjaan, itulah resiko gelar kependidikan.
Seharusnya orang yang mempunyai ilmu yang mumpuni tidak berlari dari hal yang bisa membuat ilmunya bermanfaat bagi orang lain.
Mungkin dia akan gagal di tahun pertama di jabatan yang beresiko seperti guru kelas VI, wakil kepala sekolah, atau bahkan kepala sekolah.
Namun, manusia adalah insan pembelajar yang tidak boleh berhenti untuk selalu memperbaiki diri. Bukan hanya bangga dengan gelarnya saja, namun harus diimbangi dengan sikap, tingkah laku, tutur kata yang menunjukkan keterdidikannya. Itu adalah sebuah tanggung jawab moral atas ilmu yang dimiliki.

Itu hanyalah satu dari mungkin banyak contoh di luar sana yang membuktikan bahwa "Experience is the best teacher". Bagi saya, itulah contoh kemenangan pengalaman atas gelar pendidikan. 

Rabu, Maret 09, 2016

Buku Terbaik untuk Siswa

Buku terbaik untuk siswa adalah buku tulisan gurunya sendiri.

13 tahun yang lalu, pertama kali saya bertemu dengan Bapak Joko Susilo, M.Pd. Beliau adalah guru matematika kelas IX SMP Negeri 1 Salaman. Tidak ada yang menonjol dari beliau dibandingkan dengan guru yang lain. Namun di kemudian hari, saya merasakan banyak sekali yang spesial dari beliau. Salah satunya adalah modul matematika tulisan tangan beliau. Bukan ketikan komputer, namun tulisan tangan beliau. Tulisan yang khas, dengan huruf delapan yang unik dan 4 kolom setiap lembarnya. Kalau tidak salah, di saat mata pelajaran lain membutuhkan buku pendamping yang harganya puluhan ribu rupiah, kami hanya cukup membayar 2000 rupiah setiap Pak Joko mengkopikan materi baru. Ringan sekali bagi kami waktu itu. Sampai sekarang, buku itu masih saya simpan sebagai kenang - kenangan.

Entah apa menariknya modul itu, namun kenangan saya mengerjakan modul itu luar biasa. Tidak pernah saya sesenang itu berpusing - pusing ria mengerjakan soal tanpa disuruh siapapun. Mungkin adik - adik kelas saya kelas IX di SMP Negeri 1 Salaman masih mendapatkan modul tersebut sebagai teman belajar.

Sekarang, saya sama dengan Pak Cilo (panggilan ibu saya kepada Pak Joko). Saya menjadi guru matematika di SMP. Seingat saya, tidak ada guru yang lebih saya idolakan dibandingkan dengan beliau sampai sekarang. Sebagai guru, saya merasakan sulitnya membuat buku soal untuk anak, apalah lagi rangkuman materi dan pembahasannya. Namun saya berusaha sedikit demi sedikit untuk merekap soal yang saya gunakan.

Mimpi saya, entah tahun ajaran berapa nanti,, saya bisa memberikan kepada siswa saya buku soal yang saya tulis sendiri. Walaupun itu semua soal yang ada di buku pegangan seperti erlangga, yudhistira,  tiga serangkai atau itu hasil download dari beberapa situs yang menyediakan soal matematika. Saya tidak bermaksud menjualnya secara komersil kepada orang lain. Saya cuma ingin memberikan bekal yang cukup untuk belajar siswa saya. Selain lebih murah, buku itu juga bisa secara tepat membantu mereka dalam belajar.

Saya ingin anak - anak merasakan semangat belajar seperti saya ketika saya duduk di kelas IX dulu. Tanpa harus selalu diingatkan, saya menyempatkan mengerjakan beberapa soal dari modul.
Matematika memang tidak bisa secara instan dipahami, namun butuh ketekunan dan pengalaman mengerjakan soal untuk memahaminya. Walaupun guru sebagai sumber informasi dan petunjuk juga memegang peranan yang sangat penting.

Secara umum, kita sebagai guru harus bisa menulis soal kita sendiri, menyusun apa yang dibutuhkan oleh siswa kita sendiri. Kita tidak bisa bergantung kepada orang lain, karena mereka adalah siswa kita. Kita yang lebih tahu apa yang harus mereka pelajari, dari mana mulai belajar, dan seberapa banyak mereka membutuhkan pengalaman mengerjakan soal.

Prakteknya, banyak guru yang mengandalkan LKS. Namun LKS ini bukan hasil tulisannya sendiri. Bahkan ada beberapa guru yang tidak bisa mengerjakan soal di LKS jika tidak mempunyai kunci jawabannya. Ini miris. Kalau gurunya saja tidak bisa, bagimanakah lagi muridnya?
Lain lagi ceritanya untuk guru yang sibuk di luar pembelajaran. Mungkin beliau mempunyai tanggung jawab untuk memegang administrasi sekolah atau sering tugas di luar sekolah. LKS banyak digunakan untuk cadangan ketika beliau tidak bisa mengajar. Perintahnya jelas sekali di papan tulis :
"Kerjakan Soal LKS hlm.... romawi I sampai III, dikumpulkan di meja Pak Guru"
"Kalau tidak bisa, silahkan baca dulu materinya"
Hee...
Memang, anak bisa belajar mandiri. Tapi tanggung jawab kita sebagai pendamping mereka digantikan oleh LKS yang dibuat orang lain. Kalau itu LKS kita sendiri, sungguh luar biasa. Kita sudah tahu alurnya, dan kemungkinan sudah di set untuk bisa dikerjakan anak secara mandiri. Sekali lagi, guru tidak boleh malas menulis.

Latihan saya mudah : (pesan salah seorang pengawas kami)

Tulislah yang kamu kerjakan
Kerjakan apa yang kamu tulis

Simpel...

Melalui tulisan ini, saya juga berterima kasih kepada beliau, Pak Joko Susilo. Beliau telah memberikan pengalaman belajar yang menarik dan sangat membekas bagi saya. Semoga semangat beliau dalam mengajar bisa saya praktekkan di sekolah saya. 

Minggu, Maret 06, 2016

Logika Sederhana UN

Beberapa waktu kemarin dan yang akan datang,saya akan berkutat dengan RPP, Silabus, Prota, Promes, Analisis UH, dsb. Hal ini dikarenakan saya sedang dalam proses PIGP (Proses Induksi Guru Pemula).
Sejujurnya, saya dan teman - teman sering membicarakan tentang segala administrasi guru ini. Kesepakatan sementara kami, administrasi guru memang bukanlah hal yang menentukan keberhasilan pembelajaran yang kami lakukan. Ini versi kami lho.. beda tempat beda kesimpulan...

Nah, sebuah logika sederhana saya pribadi tentang segala administrasi ini adalah "Mengapa segala adminstrasi guru ini belum bisa meningkatkan rata - rata nilai UN?"
Logika saya adalah seperti ini:

KKM
Seluruh mata pelajaran telah ditetapkan KKM nya di awal tahun ajaran. Bahkan guru harus membuat KKM per materi, yang merupakan batas awal minimal tentang pencapaian siswa yang harus dicapai.
Mari kita cek bersama, Adakah guru yang membuat KKM pembelajarannya di bawah 5?
Kalau tidak ada, berarti nilai raport sebagian besar siswa (mungkin ada sebagian siswa yang tidak bisa mencapai nilai KKM itu) berada sama dengan atau di atas KKM. Right?
next...

Nilai raport
Mari kita cek nilai raport siswa, adakah nilai siswa yang berada di bawah KKM di raport mereka?
Atau ekstrimnya, saya gunakan angka 5 lagi,
Adakah nilai raport siswa di bawah 50??
Kalau tidak ada, berarti siswa telah mampu mencapai batas minimal pembelajaran yang telah dilakukan oleh gurunya. Karena nilai raport didapat dari nilai ulangan harian, nilai pekerjaan rumah dan tugas, serta UTS dan UAS.
next...

Nilai UN
Pertanyaan saya di awal tadi adalah "Mengapa segala adminstrasi guru ini belum bisa meningkatkan rata - rata nilai UN?
logika keseluruhan tulisan ini adalah :

Nilai KKM bagus --> nilai  raport (UH, PR, Tugas, UTS, UAS) bagus --> nilai UN kok ga bagus??

Seorang guru dari yang telah membuat administrasi dengan baik, mulai dari RPP dan kawan - kawan..
Seharusnya, (seharusnya lho....) bingung...
Kemarin anak - anak bisa dapat nilai bagus, kok UN nilainya tetap jelek?
Padahal kalau kita cek UN hanya menilai beberapa Kompetensi Dasar dari Standar Kompetensi yang telah diajarkan selama proses pembelajaran. right?
Bahkan, seluruh indikator UN sudah diberikan sebelumnya, jauuuuhhhhh sebelumnya.
Try Out pun telah dilakukan, Simulasi UN, Pra UN juga telah dilaksanakan...
Kok nilai UN masih jelek ya?

Heee...
Dari tulisan pendek ini,
Bagaimana kita harus menyikapi adminstrasi kita?
Dapatkah kita mempertanggungjawabkan nilai yang telah kita berikan sebelumnya?
hayooo.... Mari kita jujur dan introspeksi diri kita sendiri..