Jumat, April 15, 2016

Internet dan anak

Di zaman terakhir ini, buku semakin ditinggalkan. Perpustakaan semakin sepi, anak - anak lebih senang bermain dengan gadgetnya masing - masing dibandingkan datang ke perpustakaan. Popularitas perpustakaan seakan tenggelam sebagai pusat ilmu dan sumber belajar anak.
Hal ini bukanlah hal yang merisaukan bagi sebagian wali murid dan guru. Katanya anak - anak mampu belajar dari mana saja. Tidak harus dari buku. Bisa lewat internet dan games katanya.. _apa iya?

Internet memang merupakan idola di zaman sekarang. Semuanya ada di internet. Namun internet juga menggoda penggunanya untuk bermalas - malasan dengan segala fiturnya. Facebook, bbm, wa, bahkan berita - berita hoax yang berantai merupakan suguhan keseharian di internet.

Internet tidak jahat, namun butuh dinding yang kokoh agar tidak merusak penggunanya. Seperti sepeda motor yang digunakan oleh orang yang tepat dan mengerti rambu - rambu lalu lintas. Orang yang asal dan ugal - ugalan akan membahayakan dirinya sendiri dan orang di sekitarnya. Itulah perumpamaan dari internet.

Orang tua harus sangat selektif dan intensif mengawasi penggunaan media internet ini. Anak - anak pengguna internet seperti orang yang naik sepeda motor dan belum tahu kemana jalan yang benar. Jalan yang membuatnya sampai ke tujuan dan tidak tersesat. Tugas orang tua dan orang dewasa di sekitar anak tersebut adalah sebagai rambu - rambu jalan bagi pengguna motor. Harus dipatuhi. Bukan hanya sebagai monumen usang di pinggir jalan. Karena sekali merasakan "kenikmatan jahat" dari internet akan membuat anak tersebut ketagihan. Orang tua harus berperan seolah - olah polisi tidur yang memberikan tanda agar berjalan pelan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dalam penggunaan internet.

Internet adalah media yang baik, jelas.
Banyak soal, banyak pengalaman, banyak media yang membuat anak kreatif dan tumbuh sesuai dengan zaman mereka sekarang. Internet lah yang menghasilkan orang - orang hebat seperti penulis best seller Raditya Dika, karena buku awal Raditya Dika adalah hasil dari cetakan blognya.

Namun internet juga bisa jahat, ketika anak mampu menggunakannya di luar kontrol dan tanpa pengawasan. Banyak anak yang meniru kegiatan yang dibaca, dilihat, dan biasa didengar dari internet. Seperti mesin fotokopi, anak akan menyimpan segala yang didapatnya di Internet. Jika anak tidak mampu memfilter apa yang didapatnya dengan baik hasilnya akan sangat mengerikan.


Kita bersyukur dengan digagasnya Internet positif oleh kominfo. Minimal penggunaan negatif dari internet bisa berkurang. Namun, itu tidak boleh mengurangi pengawasan terhadap para pengguna muda internet. Mari bersama - sama menggunakan internet dengan bijak

Selasa, April 05, 2016

The Angkringans

Hari ini tidak ada yang berbeda. Walaupun saya sekarang berada di Temanggung, kebiasaan saya untuk nongkrong tidak berubah. Angkringan adalah tempat favorit saya untuk makan dan nongkrong sejenak. Sekedar bertemu dengan orang – orang baru, mengobrolkan sesuatu hal yang berbeda dari biasanya, dan mengamati beberapa hal “tidak biasa” di pinggir jalan. Tidak ada yang meributkan soal status sosial di sana. Semuanya berbaur dalam suasana kekeluargaan dan persahabatan yang kental.

The Angkringan
Angkringan di rumah saya disebut “Kucingan”. Walaupun sebenarnya belum tentu ada kucing di sana, yang ada hanya “Nasi Kucing” dan kawan – kawannya. Sate usus, sate ati dan ampela, sate telur puyuh, dan yang hampir selalu ada di setiap angkringan, benda bernama gorengan. Jika diamati sekilas memang angkringan biasanya terlihat kotor, karena pelanggan biasanya membuang sisa makananya di bawah gerobak. Namun para pelanggan HIK (Hidangan Istimewa ala Kampung, sebutan angkringan di Solo) tidak bermasalah dengan semua itu. Bahkan banyak dari mereka rela duduk beralaskan tikar di trotoar dan tanah lapang dan berdesakan dengan pelanggan yang lain.

Saking istimewanya angkringan untuk saya, setahun terakhir saya punya hobi mampir di angkringan yang saya lewati di sepanjang jalan Temanggung – Yogyakarta. Sampai akhirnya saya menemukan beberapa keunikan dari angkringan.

Tiga Ceret
Hampir di setiap angkringan jarang ditemukan tempat air minum selain ceret. Jumlahnya pun kebanyakan tiga. Selalu diletakkan di samping kanan gerobak angkringan dengan ditemani tungku arang yang selalu menyala. Kata teman saya, itu perintah “dari sononya”. Hehe. Mungkin itu SOP untuk para penjual angkringan.

Coklat
Coklat yang saya maksud bukan makanan manis yang biasa kita makan, namun angkringan sangat berkaitan dengan para COKLAT, yaitu COwok KLATen. Banyak sekali mas – mas penjual angkringan berasal dari daerah Klaten. Bahkan pernah saya temui angkringan di depan Ruko Tanjung, Magelang adalah seorang anak dari Klaten yang usianya baru 14 tahun. Namun jangan tanya kemampuannya meracik susu jahe atau jahe anget. Mantap. Angkringan di pertigaan Grompol, sebelah utara UGM menggambarkan uletnya penjualnya. Setiap hari beliau menempuh Yogya – Klaten untuk berjualan.

Souvenir Angkringan
Jangan pernah berpikir souvenir yang saya maksud adalah mug bertuliskan terima kasih telah datang ke angkringan saya, gantungan kunci, atau souvenir lain ala pesta pernikahan. Namun souvenir angkringan ini adalah oleh – oleh yang unik di beberapa angkringan. Angkringan di sebelah Masjid Agung Temanggung punya souvenir yang unik. Souvenirnya berupa film gratis. Kalau anda pecinta film baru yang up to date, silahkan coba ke sana. Temui Mas Arga dan mulailah minta film kepadanya di jam 16.00 sampai malam. Dia akan dengan senang hati untuk memberikan film barunya kepada anda. Gratis – tis... Angkringan mas – mas yang akun facebooknya “LightAruga si Jantung Badai” ini adalah angkringan yang paling favorit bagi saya di Temanggung.
Souvenir lain yang unik adalah jual beli barang bekas yang ada di Angkringan Mbah Kethip di perempatan Srumbung, Muntilan. Dulu di belakang angkringan tersebut ada papan tulis whiteboard yang bertuliskan barang – barang bekas, mulai dari HP, motor, sampai pernah mobil kalau tidak salah. Menu unggulan di angkringan ini adalah Teh Hangat Gula Batu. Hmm Joss!

Angkringan Modern
Angkringan modern sekarang banyak ditemui di Yogya. Ada angkringan Bambu di jalan Kronggahan – Cebongan yang bersih dan nyaman. MA (Market Angkringan) 1, 2, dan 3. Ga cuma Pamela yang punya cabang sampai tujuh. Namun MA sudah punya tiga cabang. Pusatnya ada di Pangukan, Sleman. Mantapnya angkringan ini adalah harganya yang super murah dan super lengkap. Bahkan di sana ada nasi wader, nasi paru, sampai nasi merah. Angkringan lainnya adalah KRINGKRONG di jalan Damai yang mengkonsep angkringan dengan segala fasilitas yang keren.

Beberapa angkringan lain memang tidak kalah istimewa bagi saya. Mulai dari makanan, penyajian, dan gaya khas dari penjualannya.
-    Angkringan Pak Panut di depan GOR Klebengan harganya super murah dengan gaya menghitung yang khas. Makananya juga murah. Kalau mau makan dengan puas, datanglah jam 9 malam ke atas. Kita akan disuguhkan nasi hangat dengan bakaran gorengan yang mantap.
-    Angkringan di sebelah barat Kolam Renang UNY, makanan khasnya adalah bakaran ayam yang mantap. Harganya mantap dan selalu penuh dengan mahasiswa yang ngobrol dengan nyaman di trotoar bertemankan asap knalpot.
-    Angkringan kedua di kanan jalan arah Cebongan dari perempatan Kronggahan. Menu khas di sini beda dengan yang lain, yaitu sego wiwit. Menu khas yang baru saya temui di angkringan ini.
-    Angkringan di seberang BRI Muntilan. Di sana kita bisa merasakan tempe mendoan yang khas. Lebar, garing, dan gurih. Yummyyy
-    Angkringan di alun – alun Magelang. Kita bisa makan nasi bakar yang dibungkus daun pisang seperti lontong. Walaupun akhir – akhir ini saya jarang melihat deretan angkringan ini. Sepertinya mereka dipindahkan ke tempat lain.

Bagi saya angkringan penyatu hati lewat hidangan. Hidangan raga dan hidangan jiwa. Hubungan berbanding lurus antara kenyangnya perut dan nyamannya jiwa.
Ada yang punya angkringan favorit lain??

Senin, Maret 21, 2016

Guru dan Gelar

Tulisan ini murni pendapat pribadi jadi sebelumnya mohon maaf apabila banyak yang kurang sepakat dengan saya atau malah benar - benar tidak setuju dengan pendapat saya.

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang guru yang mengeluh dengan beratnya pekerjaan. Beliau harus menempuh pendidikan lanjutan karena masih lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang setara SMA. Sedangkan sekarang guru minimal harus S-1.

Kalau tidak, beliau akan dihilangkan tunjangan profesionalnya, di kantorkan, bahkan katanya ada rumor untuk di pensiun dini. #entah benar atau tidak...

Di tempat beliau bekerja sudah banyak guru yang mempunyai gelar S-1. Bahkan ada yang sedang menempuh S-2. Sedangkan beliau dengan beberapa temannya masih menempuh S-1. Uniknya, para guru yang sudah bergelar S-1 ke atas tersebut tidak berkenan untuk mengajar di kelas VI karena kesibukan, belum punya pengalaman, atau tidak berani mengambil tanggung jawab sebagai guru kelas VI.
Sudah sekian kali beliau ingin turun ke kelas yang lebih rendah, namun terganjal tidak adanya SDM yang berkenan untuk menggantikannya. Sekolah pun seakan mengamini. Bahwa posisi guru kelas VI memang hanya cocok untuk beliau. Bukan guru yang lain. 
hee..

Itulah resiko pekerjaan, itulah resiko gelar kependidikan.
Seharusnya orang yang mempunyai ilmu yang mumpuni tidak berlari dari hal yang bisa membuat ilmunya bermanfaat bagi orang lain.
Mungkin dia akan gagal di tahun pertama di jabatan yang beresiko seperti guru kelas VI, wakil kepala sekolah, atau bahkan kepala sekolah.
Namun, manusia adalah insan pembelajar yang tidak boleh berhenti untuk selalu memperbaiki diri. Bukan hanya bangga dengan gelarnya saja, namun harus diimbangi dengan sikap, tingkah laku, tutur kata yang menunjukkan keterdidikannya. Itu adalah sebuah tanggung jawab moral atas ilmu yang dimiliki.

Itu hanyalah satu dari mungkin banyak contoh di luar sana yang membuktikan bahwa "Experience is the best teacher". Bagi saya, itulah contoh kemenangan pengalaman atas gelar pendidikan. 

Rabu, Maret 09, 2016

Buku Terbaik untuk Siswa

Buku terbaik untuk siswa adalah buku tulisan gurunya sendiri.

13 tahun yang lalu, pertama kali saya bertemu dengan Bapak Joko Susilo, M.Pd. Beliau adalah guru matematika kelas IX SMP Negeri 1 Salaman. Tidak ada yang menonjol dari beliau dibandingkan dengan guru yang lain. Namun di kemudian hari, saya merasakan banyak sekali yang spesial dari beliau. Salah satunya adalah modul matematika tulisan tangan beliau. Bukan ketikan komputer, namun tulisan tangan beliau. Tulisan yang khas, dengan huruf delapan yang unik dan 4 kolom setiap lembarnya. Kalau tidak salah, di saat mata pelajaran lain membutuhkan buku pendamping yang harganya puluhan ribu rupiah, kami hanya cukup membayar 2000 rupiah setiap Pak Joko mengkopikan materi baru. Ringan sekali bagi kami waktu itu. Sampai sekarang, buku itu masih saya simpan sebagai kenang - kenangan.

Entah apa menariknya modul itu, namun kenangan saya mengerjakan modul itu luar biasa. Tidak pernah saya sesenang itu berpusing - pusing ria mengerjakan soal tanpa disuruh siapapun. Mungkin adik - adik kelas saya kelas IX di SMP Negeri 1 Salaman masih mendapatkan modul tersebut sebagai teman belajar.

Sekarang, saya sama dengan Pak Cilo (panggilan ibu saya kepada Pak Joko). Saya menjadi guru matematika di SMP. Seingat saya, tidak ada guru yang lebih saya idolakan dibandingkan dengan beliau sampai sekarang. Sebagai guru, saya merasakan sulitnya membuat buku soal untuk anak, apalah lagi rangkuman materi dan pembahasannya. Namun saya berusaha sedikit demi sedikit untuk merekap soal yang saya gunakan.

Mimpi saya, entah tahun ajaran berapa nanti,, saya bisa memberikan kepada siswa saya buku soal yang saya tulis sendiri. Walaupun itu semua soal yang ada di buku pegangan seperti erlangga, yudhistira,  tiga serangkai atau itu hasil download dari beberapa situs yang menyediakan soal matematika. Saya tidak bermaksud menjualnya secara komersil kepada orang lain. Saya cuma ingin memberikan bekal yang cukup untuk belajar siswa saya. Selain lebih murah, buku itu juga bisa secara tepat membantu mereka dalam belajar.

Saya ingin anak - anak merasakan semangat belajar seperti saya ketika saya duduk di kelas IX dulu. Tanpa harus selalu diingatkan, saya menyempatkan mengerjakan beberapa soal dari modul.
Matematika memang tidak bisa secara instan dipahami, namun butuh ketekunan dan pengalaman mengerjakan soal untuk memahaminya. Walaupun guru sebagai sumber informasi dan petunjuk juga memegang peranan yang sangat penting.

Secara umum, kita sebagai guru harus bisa menulis soal kita sendiri, menyusun apa yang dibutuhkan oleh siswa kita sendiri. Kita tidak bisa bergantung kepada orang lain, karena mereka adalah siswa kita. Kita yang lebih tahu apa yang harus mereka pelajari, dari mana mulai belajar, dan seberapa banyak mereka membutuhkan pengalaman mengerjakan soal.

Prakteknya, banyak guru yang mengandalkan LKS. Namun LKS ini bukan hasil tulisannya sendiri. Bahkan ada beberapa guru yang tidak bisa mengerjakan soal di LKS jika tidak mempunyai kunci jawabannya. Ini miris. Kalau gurunya saja tidak bisa, bagimanakah lagi muridnya?
Lain lagi ceritanya untuk guru yang sibuk di luar pembelajaran. Mungkin beliau mempunyai tanggung jawab untuk memegang administrasi sekolah atau sering tugas di luar sekolah. LKS banyak digunakan untuk cadangan ketika beliau tidak bisa mengajar. Perintahnya jelas sekali di papan tulis :
"Kerjakan Soal LKS hlm.... romawi I sampai III, dikumpulkan di meja Pak Guru"
"Kalau tidak bisa, silahkan baca dulu materinya"
Hee...
Memang, anak bisa belajar mandiri. Tapi tanggung jawab kita sebagai pendamping mereka digantikan oleh LKS yang dibuat orang lain. Kalau itu LKS kita sendiri, sungguh luar biasa. Kita sudah tahu alurnya, dan kemungkinan sudah di set untuk bisa dikerjakan anak secara mandiri. Sekali lagi, guru tidak boleh malas menulis.

Latihan saya mudah : (pesan salah seorang pengawas kami)

Tulislah yang kamu kerjakan
Kerjakan apa yang kamu tulis

Simpel...

Melalui tulisan ini, saya juga berterima kasih kepada beliau, Pak Joko Susilo. Beliau telah memberikan pengalaman belajar yang menarik dan sangat membekas bagi saya. Semoga semangat beliau dalam mengajar bisa saya praktekkan di sekolah saya. 

Minggu, Maret 06, 2016

Logika Sederhana UN

Beberapa waktu kemarin dan yang akan datang,saya akan berkutat dengan RPP, Silabus, Prota, Promes, Analisis UH, dsb. Hal ini dikarenakan saya sedang dalam proses PIGP (Proses Induksi Guru Pemula).
Sejujurnya, saya dan teman - teman sering membicarakan tentang segala administrasi guru ini. Kesepakatan sementara kami, administrasi guru memang bukanlah hal yang menentukan keberhasilan pembelajaran yang kami lakukan. Ini versi kami lho.. beda tempat beda kesimpulan...

Nah, sebuah logika sederhana saya pribadi tentang segala administrasi ini adalah "Mengapa segala adminstrasi guru ini belum bisa meningkatkan rata - rata nilai UN?"
Logika saya adalah seperti ini:

KKM
Seluruh mata pelajaran telah ditetapkan KKM nya di awal tahun ajaran. Bahkan guru harus membuat KKM per materi, yang merupakan batas awal minimal tentang pencapaian siswa yang harus dicapai.
Mari kita cek bersama, Adakah guru yang membuat KKM pembelajarannya di bawah 5?
Kalau tidak ada, berarti nilai raport sebagian besar siswa (mungkin ada sebagian siswa yang tidak bisa mencapai nilai KKM itu) berada sama dengan atau di atas KKM. Right?
next...

Nilai raport
Mari kita cek nilai raport siswa, adakah nilai siswa yang berada di bawah KKM di raport mereka?
Atau ekstrimnya, saya gunakan angka 5 lagi,
Adakah nilai raport siswa di bawah 50??
Kalau tidak ada, berarti siswa telah mampu mencapai batas minimal pembelajaran yang telah dilakukan oleh gurunya. Karena nilai raport didapat dari nilai ulangan harian, nilai pekerjaan rumah dan tugas, serta UTS dan UAS.
next...

Nilai UN
Pertanyaan saya di awal tadi adalah "Mengapa segala adminstrasi guru ini belum bisa meningkatkan rata - rata nilai UN?
logika keseluruhan tulisan ini adalah :

Nilai KKM bagus --> nilai  raport (UH, PR, Tugas, UTS, UAS) bagus --> nilai UN kok ga bagus??

Seorang guru dari yang telah membuat administrasi dengan baik, mulai dari RPP dan kawan - kawan..
Seharusnya, (seharusnya lho....) bingung...
Kemarin anak - anak bisa dapat nilai bagus, kok UN nilainya tetap jelek?
Padahal kalau kita cek UN hanya menilai beberapa Kompetensi Dasar dari Standar Kompetensi yang telah diajarkan selama proses pembelajaran. right?
Bahkan, seluruh indikator UN sudah diberikan sebelumnya, jauuuuhhhhh sebelumnya.
Try Out pun telah dilakukan, Simulasi UN, Pra UN juga telah dilaksanakan...
Kok nilai UN masih jelek ya?

Heee...
Dari tulisan pendek ini,
Bagaimana kita harus menyikapi adminstrasi kita?
Dapatkah kita mempertanggungjawabkan nilai yang telah kita berikan sebelumnya?
hayooo.... Mari kita jujur dan introspeksi diri kita sendiri..

Kekuatan Kepala Sekolah

Kepala Sekolah adalah seorang guru yang mendapatkan tugas tambahan sebagai memimpin suatu sekolah yang diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan menerima pelajaran.
Definisi secara etimologi, kepala sekolah merupakan padanan dari school principal yang tugas kesehariannya menjalankan principalship atau kekepalasekolahan. (Copas dari tulisan orang,maaf lupa sumbernya) piss...

Bagi saya, seorang kepala sekolah adalah seorang leader (bukan boss), penyemangat, dan pembimbing bagi guru dan seluruh warga sekolah.

Kata leader, bukan bos ini sangat saya tekankan.
Perlu diingat, kepala sekolah bukanlah satu - satunya orang yang menentukan kemana arah dan tujuan sekolah akan dibawa. Namun kepala sekolah adalah orang yang mengambil tanggung jawab terbesar dari proses yang ada di sekolah.
Proses itu seperti :
Bagaimana beliau menetapkan target bagi guru - guru di tempatnya bekerja,
Bagaimana beliau menjalankan proses pembimbingan dan pengaturan atas apa yang terjadi di sekolahnya,
Bagaimana beliau menjalankan sisi sebagai seorang bapak bagi teman - temannnya,
dan lain sebagainya.

Jelas, proses itu semua membutuhkan sebuah keterampilan, dan memang menjadi kepala sekolah melewati proses seleksi yang panjang. Namun, terkadang ketidaksamaan visi dari kepala sekolah akan membuat runyam sekolah yang ditempatinya.
Saya pernah menjadi anak didik kepala sekolah di sebuah sekolah swasta, dan sekarang saya dididik dan dibina oleh kepala sekolah di sekolah negeri.
Perbandingan ini jelas tidak membutuhkan banyak waktu untuk dipertentangkan. Karena memang banyak faktor yang membuatnya tidak bisa dibandingkan.
Namun, setidaknya saya mengamati, ada beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah.

Keteladanan
Bagi seorang leader di sebuah instansi, keteladanan adalah faktor yang paling bisa diamati secara kasat mata oleh siapapun. Sebuah contoh berjalan (uswatun khasanah) dari seorang kepala sekolah adalah patokan awal untuk bersikap dan dilaksanakan oleh orang yang berada di bawahnya.
Sebuah keteladanan yang murni, tanpa dibuat - buat, tanpa direkayasa, dan terjaga sepanjang waktu.
Bukti dari keteladanan itu adalah satunya perkataan dan perbuatannya.
Tanpa mengesampingkan faktor ke"manusia"an seorang kepala sekolah yang pasti akan mengalami titik jenuh, tergeser dari apa yang telah digariskannya sendiri lewat peraturan dan kebimbangannya dalam menyelesaikan masalah, apapun yang dilakukan kepala sekolah akan menjadi buah bibir dan suri tauladan bagi anak buahnya di sekolah.
Maka dari itu, seorang kepala sekolah hendaknya mampu "bermuka dua". Muka yang pertama adalah sebagai wajah dari seorang pemimpin instansi dan muka yang kedua adalah seorang ayah yang sayang kepada keluarganya.

Komunikasi
Komunikasi ini terbagi menjadi dua yaitu intern dan ekstern.
Komunikasi internal kepada warga sekolah baik itu guru, karyawan atau murid dan komunikasi eksternal kepada masyarakat dan dinas pendidikan.
Kedua komunikasi itu haruslah dijaga dengan baik.
Seorang kepala sekolah harus bisa banyak "MENDENGAR" dibandingkan dengan "BERKATA".
Mendengarkan apa yang dirasakan oleh keluarga di sekolah dan luar sekolah.
Baru kemudian berkata dan mengambil sikap untuk menindaklanjuti apa yang didengarnya.
Seorang kepala sekolah mungkin harus rela pulang paling akhir untuk bisa mendengarkan curhat seorang guru atau bahkan siswa ketika memang ada masalah yang terjadi pada mereka.
Kunci keberhasilan seoang kepala sekolah adalah komunikasi yang terjalin erat.

Mengajak bukan Memerintah
Setelah bisa memberikan keteladanan dalam sikap dan perkataan serta mampu mengkomunikasikan segala yang berkaitan dengan sekolah kepada pihak - pihak yang berkepentingan, seorang kepala sekolah harus mampu "MENGAJAK" seluruh keluarganya untuk bergerak sesuai dengan insturksinya.
Sekali lagi MENGAJAK bukan MEMERINTAH.
Ketika seseorang mengajak orang lain, maka orang tersebut akan menemani, memberikan bimbingan, mengingatkan, dan melengkapi kekurangan orang yang diajaknya. Begitupun kepala sekolah.
Banyak menemani kegiatan luar sekolah adalah salah satu contohnya. Seorang kepala sekolah yang pasti jam mengajarnya sedikit karena tugas di luar sekolah harus memanfaatkan kegiatan luar sekolah sebagai media untuk dekat dan mengawal langsung apa yang menjadi program sekolahnya.
Istilah keren sekarang adalah blusukan. Melihat langsung apa yang terjadi pada sekolahnya.
Itu sih sudah beberapa kali dicontohkan presiden kita yang sekarang.
Namun hal yang harus disadari, hadirnya kepala sekolah di luar jam sekolah bagi guru dan murid itu sangat spesial. Kesan angker kepala sekolah akan hilang seiring obrolan - obrolan kecil dengan siswa dan pembimbing kegiatan. Coba saja kalau tidak percaya....

Tidak boleh rentan kritik
Dahlan Iskan dalam wawancara dengan Andy F Noya pernah berkata, "jangan pernah sekali - kali melawan atasan, karena itu berarti kematian seoang bawahan".
Butuh keberanian bagi seorang guru untuk memberikan masukan kepada kepala sekolahnya.
Bahkan mungkin ketika diminta sekalipun.
Hee,,,
Itulah yang kebanyakan terjadi.
Namun berbeda, ketika komunikasi antara kepala sekolah dan guru berjalan dengan baik, maka segala saran bahkan kritik akan tersampaikan dengan baik.
Secara gampang, guru adalah pelaksana lapangan bagi program sekolah. Guru lah yang mengerti kekurangan dan hal - hal yang dibutuhkan untuk mensukseskan program sekolah. Maka dari itu, masukan dan kritik dari guru ini adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh kepala sekolah untuk mendatangkkan kesukseskan progam sekarang dan menyusun program yang lebih baik di waktu yang akan datang.

Masih banyak sebenarnya yang harus dimiliki kepala sekolah, namun minimal hal hal diatas yang bisa saya jabarkan sekarang.
semoga bermanfaat bagi para kepala sekolah, dan calon kepala sekolah di masa yang akan datang.
Pesan saya, JADI KEPALA SEKOLAH, SIAPA TAKUT??
_kiriman artikel saya yang tidak pernah terbit di surat kabar... heee

Sabtu, Maret 05, 2016

Siswa itu Unik

Minggu ini termasuk melelahkan bagi saya..
Tesis masih harus terus diedit, Lomba pramuka baru selesai, Lomba OSN Matematika siswa baru tadi pagi dilaksanakan, Lomba OSN Matematika guru kayaknya minggu depan,  UN SMP semakin dekat, PIGP (Program Induksi Guru Pemula) sudah mulai berjalan dengan segala buntutnya yang seabreg..
hhh..

Sebagai guru, memang saya punya beberapa hal tambahan yang melekat dengan pekerjaan saya.
Tapi kenapa harus bersamaan waktunya???? #benturinkepalaketembok....

Tapi saya punya hiburan yang sangat asyik..
Namanya siswa kelas 7, 8, dan 9 SMP Negeri 2 Wonoboyo Satu Atap ...
hahahaa...
Terkadang, merekalah yang bisa membuat saya tertawa sejenak dan melupakan segala beban hidup saya.
Siswa itu unik, sangat unik....
Mulai dengan segala kekonyolan mereka, ke"ngeyel"an mereka, dan kepolosan mereka.

Siswa unik saya yang pertama adalah siswa yang sudah mulai dewasa, mulai punya pacar.... waww..
Sayangnya, mereka harus putus di tengah jalan. Nah, saat saya menerangkan tentang materi PAI kelas 8, bab perilaku tercela yaitu Dendam dan Munafik. Setelah semua materi saya sampaikan, mulai dari definisi, contoh, cara mencegah, dll. Dua siswa saya ini malah berdebat sendiri, padahal mereka sebenarnya curhat....
Curhat tentang hubungan mereka yang baru saja gagal.
Mereka seolah - olah bertanya pada saya seperti ini:
"Pak, kalau misalnya ada orang, yang tidak bisa menjaga janji, itu munafik tidak?" tanya siswi saya
"Lha pak, kalau misalnya janji itu tidak bisa dipenuhi karena keadaan keluarga gimana pak?" timpal siswa saya(mantan pacar siswi yang tadi)..
akhirnya sesi tanya jawab selesai dan akhirnya saya dan siswa sekelas tahu semua rahasia mereka...
Kami sangat terhibur dengan semua itu
Hari itu saya seolah - olah menjadi seorang hakim yang mendengarkan jaksa penuntut umum dan pengacara terdakwa yang saling berdebat.
Duh... indahnya masa sekolah....
batin saya...

Siswa unik saya yang kedua adalah siswa kelas 7 yang secara jujur bercerita tentang keanehannya.
Dia bisa menghitung pembagian dengan dua angka, namun tidak bisa PERKALIAN!!
Bagi kebanyakan siswa, pembagian adalah materi yang sulit, namun baginya sangat mudah.
Sedangkan baginya, perkalian adalah materi yang sangat sulit. Masalahnya sepele. Dia tidak bisa menyimpan puluhan pada perkalian dua angka dan dua angka.
Kami sekelas tertawa terbahak - bahak ketika dia menuliskan hasil perkalian di papan tulis.
Dan semuanya salah. heheehee
Teman - temannya sangat heran dengan anak yang satu ini.
Namanya juga anak - anak.

Siswa unik saya yang ketiga adalah siswa yang sangat cerewet, maklumlah.. namanya juga perempuan.
Dia sama sekali tidak pernah memikirkan tentang sekolah.
Yang dia pikirkan adalah penampilan.
Fitrah banget.
Wanita dan penampilan.
Namun sayangnya satu. Dia tidak pernah mandi pagi. HAHAHAHAAA
Ke sekolah, bisa dihitung berapa kali dia mandi di pagi hari.
Alasannya jelas, dingin. hee
Masya Allah, luar biasa siswi saya ini

Siswa unik saya selanjutnya adalah beberapa anak putra kelas 7, 8, 9 yang entah kena virus apa, mereka menindik telinga mereka.
Awalnya saya dan teman - teman guru prihatin dengan semua itu.
Namun kemudian saya mengobrol dengan beberapa dari mereka.
Saat mengobrol itulah saya tahu bahwa mereka menindik telinga mereka dengan menggunakan jarum biasa, kemudian agar lobang di telinga mereka tidak kembali tertutup, mereka menggunakan lidi untuk dijadikan anting - anting.
Hehehehe, Ga modal banget. Batin saya.
Kami semua tertawa karena alasan itu, mungkin itulah batas maksimal "gaul" mereka.
hahahahahahahaaaa

Berikutnya adalah cerita siswa saya dan spidol saya yang tertinggal di kelas.
Sebelum pulang, beberapa spidol saya tertinggal di kelas. Saat teringat tentang hal itu, saya kembali ke kelas untuk mengambilnya.
Walhasil??
Papan tulis di kelas sudah penuh dengan grafiti mereka.
Mungkin grafiti di tempat lain berisi tulisan atau gambar yang artistik, hari itu papan tulis Laboratorium Komputer penuh dengan tulisan Nama Siswa dan Gebetannya.
Saat mereka sadar saya di luar kelas dan melihat papan tulis, mereka langsung teriak dan berebut penghapus papan tulis untuk menghapus nama masing - masing.
Bahkan akhirnya beberapa dari mereka menghapus dengan tangan mereka. 
hahahaha
Hal yang sangat konyol dan polos.
Cerita cinta di sekolah yang indah.
Hari berikutnya, saya mulai pelajaran dengan sangaaattt bahagia.
Karena saya mulai dengan "ngecengin" mereka dan gebetan mereka.
Itu sangat membahagiakan bagi guru yang stress seperti saya.
hahahaaa

Hiburan yang luar biasa di minggu yang melelahkan buat saya.
Alhamdulillah

Kamis, Maret 03, 2016

Sulitnya Mendengarkan



Mendengarkan itu lebih sulit..

Lihatlah dua kali sebelum bicara
Dengarkanlah dua kali sebelum bicara

Karena memang mata dan telinga diciptakan untuk seperti itu
Ketika bertemu dengan seseorang yang baru, mungkin jurus mendengarkan ini sangat ampuh untuk membuatnya nyaman.
Dengan mendengar sedikit lebih lama kita akan memperoleh sedikit lebih banyak tentang sifat dan watak dari orang yang kita ajak bicara.
Mendengarkan butuh dua telinga, sedang berucap hanya butuh satu mulut.
Itulah yang sering dikatakan. Seorang pendengar yang baik akan mengucapkan kata – kata yang ampuh untuk lawan bicaranya.
Tidak hanya itu, mulut yang dikendalikan oleh dua telinga lebih terarah dan teratur dalam bergerak dan mengeluarkan suara.
Dengarkan dulu, baru sarankan sesuatu.
Sungguh cara ini sangat jitu untuk mengikat hati seseorang. Sebagai teman tentunya. Sahabat yang baik juga akan selalu ada untuk “mendengarkan” keluhan sahabatnya. Bahkan terkadang hanya dicari ketika sahabatnya “butuh” didengarkan.
Dari telingalah segalanya berawal.

Gunakan dua telingamu sebelum kau gunakan satu mulutmu..


Catatan hari ini..
#Rapat yang ngantuk....

Minggu, Desember 06, 2015

Bersahabat dengan buku

Hari ini saya seperti biasa, setiap bulannya mampir ke toko buku.
Walaupun tidak selalu saya membeli buku, namun saya usahakan untuk setiap bulan selalu ke toko buku. Jarang memang saya menyengaja datang ke toko buku untuk membeli buku. Terkadang saya juga datang ke beberapa pameran buku tanpa niat apapun.
Jujur, saya lebih suka buku diskonan...
heee
Walaupun buku itu tentunya sudah lama, namun ilmunya tetap sama. Benar kan?
Teringat saya, 15 tahun yang lalu, saya diajak ke sudut pasar Rejowinangun oleh ayah saya.
Di sana kami tidak datang ke toko buku Jaya(toko buku besar di Magelang), Gramedia, Toga Mas, atau Sosial Agency. Tidak sama sekali.
Saya diajak ayah saya untuk membeli buku di emper toko mas yang berjejer di sana.
Saya diajak membeli buku loak. Ya, buku loak.
Teringat saya di sana membeli 2 buku agama islam, 2 buku IPS, dan 2 buku matematika.
Kenangan saya ini begitu berbekas. Bukan tidak mau membeli buku yang baru, namun ayah saya mengenalkan kepada saya. Apapun buku GURUMU, materinya selalu sama. Buku terkadang hanya ganti sampulnya. Asalkan penulisnya sama, kebanyakan isinya pasti sama.
Berawal dari kenangan itu, sampai sekarang saya gemar membeli buku loakan atau buku di bazar.
Memang mungkin murahan, namun saya menghargai penulisnya, dan menghargai ilmu yang ditularkan lewat buku yang ditulisnya.
Tidak kurang sekarang saya mempunyai 20an buku yang saya koleksi. Buku-buku yang sederhana, buku - buku tipis nan ringan bahasanya. Namun, semoga memberikan manfaat yang lebih. Karena bersahabat dengan buku itu indah.

Seorang penulis akan membaca lebih dari 2 buku untuk menuliskannya kembali dan menjadikannya karya pribadi. Namun kita sebagai pembaca hanya butuh satu buku untuk menerima ilmu dari banyak penulis yang telah disarikan kembali oleh penulis kedua. Jadi, tidak ada alasan untuk meremehkan buku setipis dan semurah apapun. Insya Allah pasti ada manfaatnya.

Kamis, November 26, 2015

Cerita Guru yang Jadi Murid

Mengikuti diklat di Balai Diklat Provinsi Jawa Tengah membuat saya menghargai sebuah proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru.
Satu catatan yang paling penting buat saya adalah menjadi murid ternyata membosankan.
Ya, sangat membosankan...
Pertama diberikan buku yang SEABREK
Kedua diminta membacanya sendiri
Ketiga diberikan ceramah yang membuat NGANTUK
Keempat GURU ternyata sangat membosankan dengan metode CERAMAHnya

Saya kemudian sadar..
Menjadi GURU itu tidak mudah
Membuat siswa tidak mengantuk pekerjaan yang berat
Membuat materi dipahami oleh siswa itu pekerjaan yang sangat sulit
Membuat siswa berniat untuk belajar sendiri setelah menerima pelajaran itu butuh kerja keras

Luar biasa ya?
Memang, serasa ditampar dengan keras
Ternyata pekerjaan mencerdaskan siswa adalah pekerjaan yang tidak mudah.
Tapi BISA DILAKUKAN
Namun, harus disiapkan dengan baik dan disampaikan dengan cara yang tepat.
Mungkin yang bisa saya sarankan adalah metode PDCA.
Plan - Do - Check - Act/Adjust.
Browse untuk lebih lanjut tentang PDCA.. OK!

Semangat para guru!!!
Di ulang tahun ke 70 PGRI, kita para guru harus lebih baik!!

Sebutanku Nanti ASN

Alhamdulillah, 15 hari ditempa oleh Balai Diklat Provinsi Jateng. Sebagai salah satu calon ASN katanya.
Apalah itu ASN??
Itulah kebingungan saya pertama kali mendapatkan 6 modul berwarna merah di dalam tas yang diberikan oleh panitia prajab.
ASN adalah Aparatur Sipil Negara. Dulu sering disebut PNS (Pegawai Negeri Sipil).
Sebentar.. Kata PNS ini sudah sangat banyak diplesetkan menjadi meme lucu yang ada di dunia maya. Contohnya :
- Pegawai Nunggu Sore
- Pejabat Negeri Santai
- Pejabat Nyantai Sekali
masih banyak lagi.. tapi lupa. hee...
Kembali ke prajab
Sebelum datang ke Balai Diklat "Srondol" ini kami memang sudah mengerti bahwa kami akan berada di sini setidaknya 40 hari. Dibagi dua bagian on dan off. On berarti kami harus berada di balai diklat untuk menerima materi dan melaksanakan ujian rancangan aktualisasi. Off berarti kami harus mengaktualisasikan apa yang kami dapatkan di Balai Diklat pada SKPD tempat kami bekerja.
Banyak sekali kami bertemu dengan para Calon ASN yang sama - sama prajab di sini. Mulai para lurah, petugas KPU, tenaga honorer, guru K2 yang sama - sama CPNS.
Luar biasanya.... Kami dididik sebenarnya semi militer.
Pelatih disiplin dan kebugaran jasmani kami berasal dari para pelatih AKPOL. Ada 4 orang Pak Slamet, Pak Broto Waliman, Pak Supriyana, dan Pak Yunus. Ampun deh kalau sampai kami bertindak di luar keinginan dan peraturan yang telah mereka buat. Terakhir hukuman kami adalah berdiri 15 menit di lapangan karena ramai di ruang makan. Tapi itulah konsekuensi. Peraturan memang dibuat untuk ditaati walaupun saat dibuat maka saat itulah pelanggaran akan terjadi.
Masih separuh jalan kami di sini. Banyak angkatan prajab yang datang dan sudah pulang. Sepertinya kami yang paling terakhir nanti pulang dari sini.
hiks...
Demi sebuah gelar ASN...
Semoga kami bisa bertanggung jawab atas amanah yang kepada kami.
aamiin

Balai Diklat Provinsi Jateng "Srondol"
Asrama Srondol III
Kamar 214 sebaris sepatu olahraga
 

Rabu, Oktober 14, 2015

Soal Latihan CCA tingkat SMP_1

Beberapa waktu yang lalu kami mengikuti lomba Mapsi tingkat SMP dan berikut adalah oleh - oleh dari kami berupa rekap soal yang kami dapatkan dari lomba tersebut.

TIPS Lomba Cerdas Cermat Agama Islam

Assalamualaikum, salam sukses untuk para pelomba dan pendampingnya

Lomba mata pelajaran adalah salah satu media untuk menunjang proses belajar siswa. Bahkan juga guru. Lomba mata pelajaran juga mampu meningkatkan kompetensi siswa dan guru secara bersamaan. Guru meningkatkan kompetensi agar mampu membimbing siswanya, sedangkan siswa tentunya mendapatkan kompetensi yang "lebih" disebabkan materi tambahan yang dia dapatkan selama pembinaan lomba.

Sabtu, September 12, 2015

Musim Mbako Pertama di Cemoro

Saya baru di Temanggung.
Saya baru dua kali melihat gebyar panen mbako di Temanggung, yang pertama saya ingat waktu kondangan ke Banjarnegara, dan ini yang kedua.
Sekarang saya benar - benar bersentuhan dengan panen tembakau....
Saya benar - benar bersentuhan dengan orang-orang yang "ngopeni" tembakau...
Mereka biasa saya panggil "siswa" ...
Hee..
Beberapa cerita seru panen tembakau di Cemoro..
1. Siswa banyak tidak masuk sekolah
Entah benar atau tidak, frekuensi siswa yang tidak berangkat di musim panen mbako semakin bertambah.... 
Mereka sering sekali beralasan ketika saya tanya keesokan harinya, ngrajang mbako pak, ngopeni mbako pak, atau capek pak ngopeni mbako semalem...
haduhhh....
2. Siswa banyak yang pulang untuk "maliki" tembakau
Matematika di jam ke empat, atau setelah istirahat di waktu panen mbako seperti ini pasti akan diganggu oleh ketukan pintu dari luar. Anak - anak banyak yang terlambat. Ketika ditanya pasti jawabanya : "Bar maliki mbako pak" (habis memutar rigen mbako yang dijemur)...
hee...
segitunya ya??

3. Orang tua banyak yang minta pulang pagi
Ini sebenarnya hanya dialami oleh kelas 1.
Maklum, beberapa anak kelas 1 masih ditunggu orang tuanya. Nah... ini masalahnya....
Jadwal mereka pulang adalah jam 10. Tapi, jam setengah 10 pasti banyak orang tua yang minta sekolah dipulangkan. Karena apa?? ya mbako itu tadi...
terpaksa... beberapa kali dipulangkan lebih awal, karena "wali" muridnya sudah minta pulang ...
aneh ya? anaknya aja adem ayem di kelas...
eh, orang tuanya yang ribut..
heee
terkadang juga anak kelas 1 tidak masuk karena orang tuanya berangkat ke ladang untuk ngopeni sawah.. mereka tidak ada yang mengantar, jelaslah mereka lebih memilih di rumah.
heee..

Inilah kenyataannya..
nanti juga kembali normal kok kalo mbako udah selesai....