Rabu, April 22, 2015

Mencari Celah untuk [Bisa] Belajar

Saya pernah menulis tentang melawan keterbatasan sarana dan prasarana dengan kreativitas. Akhirnya saya mengalaminya sendiri di sekolah saya yang baru.
Di sekolah lama, saya bisa mendapatkan berlembar - lembar kertas buram, saya bisa menampilkan soal dengan slide power point dengan LCD di kelas saya, saya bisa mengkopi tanpa harus keluar dari sekolah dalam waktu yang singkat dan lain sebagainya.
Namun di sekolah saya yang baru, semuanya belum ada. Tidak ada LCD, tidak ada fotokopian yang dekat dengan sekolah, tidak ada kertas buram hanya untuk tempat menghitung.
Mungkin inilah yang terjadi di daerah pedalaman. Saya lebih bersyukur di tempat kami listrik sudah ada, jalan sudah beraspal, dan beberapa printer di sekolah yang siap digunakan. Sekolah saya berada di ketinggian 1.300 meter dpl. Jalan untuk sampai ke sekolah juga cukup berat. Ruang kelas kami berjumlah 3 dengan beberapa bagian yang sudah rusak. Namun apa yang harus diterima anak - anak saya harus sama dengan anak - anak yang lain. Mereka juga berhak mendapatkan latihan soal dan fasilitas yang didapatkan oleh anak - anak di sekolah kota.
Hal inilah yang membuat saya berpikir agak keras. Bagaimana memberikan SPM (Standar Pelayanan Minimal) kepada mereka. Beberapa hal sudah saya lakukan. Pertama, memberikan pelajaran di jeda waktu sebelum masuk. Saya berusaha untuk tidak terlambat. Setiap ada waktu, saya mencoba untuk berinteraksi dengan mereka. Tidak melulu hanya membahas pelajaran, namun juga mencoba menggali masalah - masalah yang mereka hadapi. Karena kebetulan belum ada guru BK yang seharusnya membidangi hal tersebut, saya merasa setiap guru di sini haruslah menjadi guru BK bagi mereka.
Kedua, Soal yang seharusnya dikopi untuk media latihan dirumah, saya coba untuk menulis di papan tulis dan beberapa juga saya print dalam ukuran kecil yang sudah saya edit. Soal - soal itu saya minta untuk dikerjakan. Khusus untuk soal yang diprint, saya minta anak untuk menempelkannya di buku mereka. Agar punya arsip soal.
Ketiga, memberikan PR setiap hari. Kultur budaya di sekolah baru saya tidak begitu mendukung pembelajaran di luar sekolah. Anak - anak harus bekerja membantu orang tuanya di ladang dan terkadang membuat mereka jenuh untuk kembali belajar di malam hari. Namun mereka mengakui, ketika ada PR, mereka lebih semangat belajar. Celah itulah yang saya ambil, saya memberikan fasilitas kepada mereka soal setiap hari. Boleh dikerjakan di sekolah, boleh dikerjakan secara kelompok di rumah, atau dikerjakan dan dikumpulkan sebagai nilai pekerjaan rumah. Dengan cara tersebut mereka lebih terjadwal utuk belajar.
Keempat, mengenalkan manfaat dari internet. Walaupun berada di daerah pedalaman, ternyata siswa saya mempunyai fasilitas komunikasi berupa handphone yang cukup baik. Dari sanalah saya mengajak anak - anak untuk menggunakan fasilitas itu dalam pembelajaran. Saya memberikan beberapa situs yang bisa mereka kunjungi. Tidak hanya tentang matematika, namun semua informasi yang bisa mereka dapatkan dari internet itu.
Beberapa langkah ini memberikan kontribusi yang positif. Mereka lebih bisa mengatur jadwal belajar dan belajar dengan apa yang mereka miliki.
Saya mencoba untuk tidak mengeluh dengan apa yang ada di sekolah, karena mengeluhpun tidak akan mengubah apapun. Saya coba cari celah, dimana saya bisa masuk dan memberikan manfaat bagi siswa saya.
Saya berfikir simpel.
Siswa saya berhak untuk belajar.
Siswa saya juga berhak untuk jadi Menteri, bahkan Presiden.
Semoga usaha ini ada hasilnya.

Belajar dari Kehidupan

Bismillah,
Alhamdulillah, saya termasuk salah satu CPNS formasi umum Kabupaten Temanggung tahun 2014. Saya ditempatkan di SMP Negeri 2 Wonoboyo Satu Atap.
Kebetulan saya tadi sowan ke tempat pak kepala desa Cemoro, tempat sekolah kami berada dan kami membicarakan beberapa hal.
Salah satu yang menjadi bahan obrolan kami adalah tentang kondisi siswa dan orang tuanya. Saya banyak tersenyum dan mengamini apa yang beliau sampaikan. Kondisi pegunungan membuat orang tua wali banyak bekerja di ladang. Mereka menanam berbagai jenis sayuran dan tanaman. Tidak banyak jenis pekerjaan yang bisa mereka lakukan, karena sebagian besar wali murid mengenyam pendidikan sampai SMP.
Hal yang menarik di sini adalah menikah. Banyak sekali anak yang telah lulus SMP kemudian langsung dinikahkan. Terutama siswi putri. Ketika saya tanya siswa saya kelas IX, ternyata 2 orang siswi saya sudah siap untuk menikah, dan satu orang siswa saya sudah siap menikah setelah lulus. Catatannya adalah siswa saya ini sudah berusia 21 tahun dan masih duduk di bangku kelas IX.
Memang hal ini menjadi lumrah di sini. Tidak ada yang bisa disalahkan dengan hal ini. Menariknya hal ini membuat saya meniadakan pelajaran Matematika hari ini untuk memberikan mereka sebuah pandangan tentang hidup. Saya memberikan motivasi kepada mereka ditengah perjuangan mereka untuk menghadapi UN yang tinggal seminggu lagi. Saya memberikan beberapa contoh orang - orang yang sukses tanpa sekolah (8 dari anak kelas IX di sekolah kami berencana untuk tidak melanjutkan studi karena kondisi ekonomi). Beberapa nama saya sebutkan untuk kemudian mereka ambil hikmahnya.
Antusias mereka dalam mendengarkan membuat dua jam pelajaran terasa sempit dan tidak cukup untuk membeberkan seluruhnya. Namun alhamdulillah, siswa saya yang tidak melanjutkan ke SMA/STM/SMK menjadi lebih siap. Siswa saya yang akan menikahpun juga semoga lebih siap. Yang terpenting adalah anak - anak yang tidak akan melanjutkan ke sekolah lagi. Saya katakan, seandainya kalian tidak bersekolah lagi setelah SMP ini nanti, mari bersama - sama buat UN ini jadi menyenangkan. Karena pasti mereka tidak akan memikirkan untuk mencapai nilai terbaik dalam UN. Buat apa? Karena nilai UN tidak memberikan manfaat ketika mereka berada di ladang atau menjadi kernet angkutan desa. Nilai UN yang buruk pun tidak akan menghalangi mereka untuk menunda pernikahan yang telah mereka siapkan.
Poin kedua yang saya sampaikan adalah bahwa banyak pekerjaan yang bisa mereka lakukan walaupun hanya tamat SMP. Saya ambil cerita tentang Jim Geovedi dan Bob Sadino. Apa yang mereka lakukan, dan apa yang mereka dapat. Luar biasa. Satu hal yang mereka katakan dan membuat saya merinding.
"Pak, banyak lho yang bilang pada saya untuk tidak sekolah dengan embel - embel kerja di ladang saja, ikut bapak narik angkot saja, ikut ibu kerja di pasar saja. Sejujurnya saya malu, tidak bisa sekolah, walaupun memang keadaan yang membuat itu semua. Tapi baru kali ini saya merasakan sebuah semangat untuk menjalani itu semua. Saya merasa terbantu. Entah jadi apa saya nanti, tapi saya sudah siap. Yang terbaik buat saya adalah yang diberikan Tuhan dan sudah diatur dalam takdirnya ini, terima kasih pak".
Wow, jawaban itu adalah jawaban beberapa anak, yang saya rangkum menjadi satu. Luar biasa bukan?
Mungkin mereka bukanlah anak - anak yang pandai, mereka bukanlah anak - anak yang kaya, yang serba kecukupan. Mereka adalah anak - anak yang mencoba untuk bertahan atas keadaan yang ada dan berjuang untuk membuat keadaan yang lebih baik.
Saya sangat tidak merasa bersalah menghilangkan pelajaran saya hari ini, karena pelajaran yang paling baik menurut saya adalah bekal pelajaran untuk hidup. Hidup yang lebih baik.
Semoga, suatu saat nanti, ada siswa saya dari SMP Negeri Wonoboyo Satu Atap yang akan kembali ke desa Cemoro ini untuk menceritakan keberhasilan mereka dalam berjuang dan bertahan hidup.
Aamiin

Minggu, Februari 22, 2015

Pendamping Lomba yang Baik

Sehubungan dengan posting saya sebelumnya tentang Mendidik Anak dengan Lomba, saya kemudian menyadari posisi saya sebagai guru. Guru pendamping anak - anak saya yang mengikuti lomba. Menjadi guru pendamping lomba sebuah hal yang menarik. Saran saya, jika anda diminta untuk menjadi pendamping lomba, ambillah. Jika anda ditunjuk untuk menjadi pendamping lomba, bersyukurlah, jika tidak ada yang berkenan menjadi pendamping lomba, segeralah untuk mencalonkan diri.
Setidaknya saya merasakan tiga hal yang baik dalam posisi saya sebagai pendamping lomba, yaitu :
1. Menjadi pendamping lomba adalah pembelajaran ikhlas
    Saat menjadi pendamping lomba haruslah menyempatkan waktu yang cukup untuk melatih anak. Ini adalah sebuah pembelajaran untuk ikhlas yang pertama bagi seorang guru pendamping lomba. Guru jelas merupakan individu pribadi dan sosial yang mempunyai tanggung jawab di luar sekolah haruslah mengikhlaskan berkurangnya waktu. Baik waktu istirahat, waktu bersama keluarga, dan waktu dalam mengerjakan kewajiban utama sebagai seorang guru. Pembelajaran ikhlas yang kedua adalah tidak sebandingnya honor pembinaan lomba. Banyak sekali yang mengeluhkan "kecil"nya honor lembur sebagai pembimbing lomba. Mindset seperti ini adalah hal yang wajar mengingat tidak ringannya pekerjaan tambahan ini. Namun, mindset inipun dapat kita ubah menjadi mindset yang lebih baik seperti kemantapan hati "honor terbaik buat saya si pembimbing lomba adalah kepuasan anak dalam mengikuti lomba, entah itu menang atau kalah". Pengalaman akan membentuk pribadi pendamping lomba sebagai seorang petualang yang harus menikmati perjalanan pergi dan pulang. Bukan sebagai seorang wisatawan yang hanya akan menikmati perjalan yang hanya akan bersenang - senang ketika sampai di tujuan.

2. Menjadi pendamping lomba adalah pembelajaran menjadi manajer yang baik
    KBBI menyebutkan bahwa manajer adalah orang yang berwenang dan bertanggungjawab membuat rencana, mengatur, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu. Seorang manajer yang baik adalah manajer yang mampu bersikap baik dalam kegagalan dan keberhasilan. Dalam konteks lomba, hal yang harus disikapi dengan baik adalah kekalahan dan kemenangan anak. Pendamping lomba harus bisa memberikan motivasi yang mampu membangkitkan anak ketika mengalami kekalahan. Sebaliknya pendamping lomba harus mampu menyadari kemenangan anak pada lomba tahun ini harus bisa dipertahankan di tahun yang akan datang. Pendamping lomba harus menyadari bahwa lomba pasti diadakan secara rutin tiap tahun. Diperlukan kecermatan, ketelitian, dan penguasaan materi lomba untuk dapat membantu anak dalam mencapai prestasi tertinggi dalam sebuah lomba. Seorang pendamping lomba juga harus siap melakukan regenerasi. Anak yang mengikuti lomba di tahun ini, belum tentu akan bisa mengikuti lomba yang sama di tahun yang akan datang. Pendamping lomba harus cermat untuk selalu menyiapkan anak - anak yang baru untuk mempertahankan gelar juara.
3. Menjadi pendamping lomba adalah pembelajaran peningkatan mutu pribadi
    Orang yang baik adalah orang yang hari ini lebih baik dibandingkan dengan hari yang lalu. Menjadi seorang pendamping lomba adalah salah satu diantaranya. Karena mengikuti kompetisi mengharuskan seorang meningkatkan kompetensi. Bukan sesuatu yang baru bahwa ilmu adalah sesuatu yang selalu diperbaharui di setiap harinya. Seorang pendamping lomba harus selalu meningkatkan kompetensinya agar dapat menunjang prestasi anak - anak. Sebuah hal yang menarik jika mampu menjadi pendamping lomba di luar kompetensi asli guru tersebut. Misalnya, seorang guru teknik kimia yang mampu mengantarkan siswanya menjuarai lomba matematika. Walaupun itu hanya tingkat SD se kecamatan sekalipun, tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Anggaplah itu sebagai sebuah bonus yang baik dalam proses menjadi pribadi yang lebih bermutu. Semboyannya adalah dalam mengajar selalu ada belajar.

   

Sabtu, Februari 21, 2015

Mendidik Anak Berkompetisi Lewat Lomba

Banyak sekali cara mendidik anak, terutama membentuk karakter anak. Salah satunya dengan mengikutsertakan anak didik dalam lomba. Seorang anak didik yang dipersiapkan untuk mengikuti lomba akan mendapatkan banyak manfaat selain bertambahnya pengetahuan dalam satu bidang tertentu. Begitu banyaknya manfaat yang dapat diperoleh anak, sehingga lomba yang diadakan jarang sekali sepi peminat. Pelomba adalah sebutan bagi anak yang sangat sering mengikuti lomba. Ditambah dengan kerjasama orang tua di rumah, hasil yang diperoleh anak akan lebih maksimal. Berikut adalah beberapa manfaat yang diperoleh anak ketika mengikuti lomba.
Pertama, fokus dalam belajar. Kedua, target yang jelas dalam mengikuti kompetisi. Ketiga, kemampuan untuk berbicara di depan umum. Keempat, meningkatkan kemampuan anak dalam bersaing untuk menjadi wakil sekolah.
Kelima, berkumpul dengan para pelomba dari sekolah lain. Keenam, menikmati kegagalan dan bangkit kembali. Ketujuh, meningkatnya semangat ketika menjadi juara. Kedelapan, mengetahui jenis soal dan sistematika lomba. Kesembilan, meningkatkan kepercayaan diri. Kesepuluh, tersalurnya bakat dan minat anak didik.
Kesebelas, pantang menyerah. Keduabelas, mandiri. Ketigabelas, bekerja sama dalam tim. Keempat belas sportif.
Keempatbelas manfaat anak dalam berkompetisi dalam lomba di atas mungkin masih bisa bertambah sesuai dengan jenis lomba yang diikuti anak. Namun setidaknya hal di atas yang langsung dapat dirasakan anak ketika dalam persiapan, pelaksanaan, dan pasca mengikuti lomba.

Selasa, Januari 06, 2015

Beranilah para [Calon] Guru!!!

Setelah dua hari menjadi guru pendamping dan penilai untuk seleksi guru baru SD Muhammadiyah Sleman, banyak hal yang saya dapatkan. Mulai dari menemani membuat materi, sharing kesulitan mengajar, dan menilai pembelajaran yang dilakukan para calon guru baru di SD kami.
Mungkin ini lanjutan dari post saya sebelumnya tentang menilai kompetensi guru baru beberapa waktu yang lalu. Setelah melaksanakan penilaian, ternyata ada beberapa hal baru yang dapat saya sarankan kepada calon teman - teman saya.

1. Berani. Seorang guru harus sangat berani. Berani dalam hal yang baik. Berani bertatap muka lebih banyak dengan siswa, berani mengambil tantangan yang diberikan dengan mengajar tanpa persiapan terlebih dahulu, berani berinteraksi dengan siswa, dan lain - lain. Anggaplah ini sebagai mikroteaching yang gratis. Terlepas dari anda akan diterima atau tidak di sekolah yang membuka lowongan, namun ini pengalaman berharga bagi anda. Jika anda memang belum pernah sama sekali mengajar secara klasikal. Buktikan ya, teori yang anda dapat selama perkuliahan tidak akan berguna sama sekali kalau anda tidak mempunyai pengalaman yang memadai. Beranilah mencoba! Lihatlah hasilnya! Perbaiki kekurangannya! You'll be the best teacher

2. Kuasai materi. Khusus untuk pembelajaran dengan kurikulum 2013 yang kami terapkan, ternyata sangat tidak mungkin hanya mengajar di satu muatan saja. Apalagi anda bukanlah jurusan PGSD yang memang sudah terbiasa dengan pembelajaran tematik (menguasai lebih dari satu muatan pelajaran). Pada prakteknya, beberapa guru stag dengan materi yang merupakan "jatah" mikroteachingnya, yang telah disusun sebelumnya. Ketika waktu habis, blank.....
Padahal dengan kemampuan yang anda miliki seharusnya anda bisa menambah materi sendiri secara spontan saja (walaupun memang lebih baik dipersiapkan). Minimal, anda berkenan untuk memberikan tambahan latihan atau pengulangan materi yang selanjutnya. Saya kira tidak sulit bagi anda dalam waktu 5 sampai 10 menit menyusun 10 soal yang baru. Tulis saja di papan tulis kemudian minta anak mengerjakan. Itu hal yang sangat positif. Anak akan merasa lebih baik dengan ditemani soal dan aktivitas bermakna, dari pada anda malah mengambil posisi untuk berceramah atau mengulang materi yang baru anda ajarkan.

3. Siap ambil kesempatan. Sebuah lowongan pekerjaan biasanya terdapat beberapa pilihan jabatan. Sekiranya memang anda mampu untuk mengemban amanah itu. Ambil. Hajar saja. Lihat hasilnya nanti. Buktikan bahwa anda bisa. Misalnya anda ditawari untuk menjadi guru freelance di sebuah sekolah, tapi ada peluang untuk menjadi guru tetap. AMBIL secepatnya. Jika memang memungkinkan. Kesempatan tidak datang dua kali. Jangan menyesal di kemudian hari.

4. Berikanlah (siapkanlah) beberapa penghargaan untuk siswa. Anak sangat senang dengan hadiah. Itu sifat alami mereka. Manfaatkanlah sifat tersebut untuk meminta mereka melakukan sesuatu. Siapkanlah beberapa barang yang unik (yang cocok dengan usia siswa) untuk siswa dengan nilai terbaik, siswa teraktif, dan siswa tercepat. Itu hanya contoh saja. Tidak harus mahal. Siapkanlah hadiah itu untuk putra  dan putri.Bedakan saja corak/warnanya. Biarkan mereka memilih sendiri hadiahnya. Lihatlah, semangat mereka akan berlipat ganda ketika melihat ada hadiah yang menanti mereka.

5. Jangan takut dibandingkan dengan guru lama. Jelas, guru lama akan mempunyai efek yang sangat besar bagi siswa. Anda berteriak - teriak dengan volume terkeras anda akan kalah dengan tatapan mata guru lama. Karena siswa anda sudah kenal dengan para guru lama. Yakinkan diri anda sendiri, bahwa anda hanya akan beberapa hari disebut sebagai guru baru. Secepat - cepatnya anda harus dianggap guru lama. Jelas, itu butuh usaha yang tidak sedikit. Tapi yakinlah bahwa anda bisa, sehingga percepatan itu terlihat nyata.

Ayo, para [Calon] Guru, ukirlah prestasimu!
Buktikan bahwa Anda adalah pribadi yang unggul, berani, dan meyakinkan.
Dunia nyata bagi para lulusan sarjana adalah waktu setelah anda menerima ijazah.
Ingatlah itu!!
Selamat datang di kenyataan!!
Semangat!!

Sabtu, Januari 03, 2015

Menilai Kompetensi Guru Baru

Tiga tahun lalu, tepatnya bulan Juni 2011 saya masuk SD Muhammadiyah Sleman sebagai satu dari 8 guru baru yang lolos seleksi wawancara tahap akhir.
Sekarang, saya harus memberikan penilaian kepada beberapa guru baru yang kemarin lolos tes tertulis di SD Muhammadiyah Sleman.
_waktu berlalu begitu cepat ya..?

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada teman - teman guru baru yang mulai besok akan mengikuti proses penilaian microteaching, saya ingin memberikan beberapa hal yang patut diperhatikan dalam melakukan pengajaran di kelas yang baru. Secara utuh, seharusnya seorang guru baru dinilai kompetensi profesionalnya, paedagogiknya, dan komunikasi sosialnya. Itu sangat membutuhkan waktu yang lama dan banyak variabel yang harus diperhatikan. Berikut adalah saran saya agar dapat meningkatkan keberhasilan dalam melakukan pembelajaran di kelas yang baru :

Yang pertama : Jangan terlambat. Ketika anda terlambat di pertemuan perdana anda, maka pastilah anda akan sangat nerveous. Baik grogi pada siswa dan tim penilai yang mungkin sudah stand by di kelas.

Yang kedua : Persiapkan materi. Materi ajar yang akan anda berikan kepada siswa harus sudah sangat siap. Micro teaching baik dihadapan guru lain atau siswa secara langsung sangat membutuhkan persiapan materi yang matang.

Yang ketiga : Usahakan menggunakan media pembelajaran. Media pembelajaran yang anda gunakan dalam microteaching di kelas akan meningkatkan nilai anda dalam microteaching. Maka dari itu, persiapkan media yang sesuai dengan materi yang anda siapkan. Media dapat berupa slide powerpoint, lembar kerja siswa, gambar - gambar pendukung, kartu (bilangan, kata, huruf), dan game- game seru di kelas.

Yang keempat : Jalinlah komunikasi dengan guru pengampu dengan baik. Bertanya. Satu hal yang mungkin sangat sulit dilakukan oleh guru baru. Padahal hal ini sangat penting, bahkan bisa sangat mendukung lancarnya microteaching yang dilakukan. Bertanyalah tentang apapun, bertanyalah tentang kelas, pembelajaran, karakteristik siswa, media yang tersedia, susuan bangku siswa, siswa yang bermasalah, siswa yang pintar, dan sebagainya. Lengkapi data anda tentang kelas baru anda selengkap - lengkapnya. Sehingga anda seperti masuk kelas anda sendiri, kelas yang sudah anda pahami karakteristiknya.

Yang kelima : Guyonan. Siapkan ice breaking yang cukup untuk merefresh siswa dalam pembelajaran. Guyonan segar akan sangat dibutuhkan jika anda berada di kelas micro teaching yang kurang menguntungkan. Seperti microteaching di jam terakhir, di kelas yang sangat kurang pengetahuannya, dsb. Guyonan yang anda siapkan jangan sampai salah sasaran. Harus sesuai dengan karakteristik siswa. Guyonan yang paling sulit adalah guyonan kepada siswa SD. Guyonan yang sampai ke siswa kemudian mendapatkan respek beragam dari siswa akan memperlihatkan anda mampu menguasai kelas dengan baik.

Percayalah, anda hanya akan menjadi guru baru selama bebarapa hari saja. Selebihnya dengan usaha yang maksimal anda akan sangat diterima oleh murid dan kawan - kawan baru anda. Pertahankan semangat itu untuk mengukir prestasi di tempat kerja anda yang baru. Dan persiapkan diri anda sebagai pendiri kerajaan anda sendiri dengan prestasi yang terukir indah sebagai bukti kerja keras anda.

Susahnya menilai UAS (TKM) Kurikulum 2013

Sejenak berhenti dari aktivitas pembelajaran semester ganjil yang telah selesai, kami menyisakan sebuah pertanyaan dalam menilai hasil UAS (TKM) siswa di semester ganjil. UAS (TKM) kemarin telah menerapkan kurikulum 2013. Terdapat beberapa hal yang menurut kami tidak baik untuk siswa di dalam penilaian hasil UAS tersebut.
Yang pertama adalah bentuk soal. Bentuk soal yang digunakan oleh dinas pendidikan dalam menilai kemampuan siswa adalah pilihan ganda. Secara harafiah, ketika soal yang digunakan berbentuk pilihan ganda akan terjadi selisih yang sangat besar dalam nilai yang dicapai siswa. Ketika jawaban benar akan mendapat nilai 100 dan ketika jawaban salah akan mendapat nilai 0. Bentuk soal pilihan ganda ini tidak memberikan ruang kepada siswa untuk memberikan jawabannya atas masalah yang diberikan. Padahal, aspek kritis dan kreativitas sangat dikedepankan dalam pembelajaran kurikulum 2013. Seharusnya terdapat "ruang" untuk siswa dalam mengeksplor pengetahuan yang dimilikinya. Soal yang baik menurut kami adalah soal yang mampu meminta siswa untuk memberikan tanggapan dalam situasi yang diberikan melalui soal, menyodorkan langkah penyelesaian yang sesuai dengan alur berpikir, dan mereview ulang apa yang telah dikuasai. Bentuk soal yang paling bisa melakukan itu semua adalah isian. Baik isian singkat maupun isian panjang.
Yang kedua adalah paket soal subtema 1 dan subtema 2. Pelaksanaan UAS semester ganjil kemarin menggunakan paket soal subtema 1 dan 2 yang digabung. Alasannya kami kurang tahu, ada yang bilang untuk efisiensi waktu dan anggaran, ada yang bilang kalau indikator KD yang mirip di dua subtema tersebut, entahlah.. Bagi siswa, terkadang kebingungan dalam belajar karena materi terlalu banyak. Sehingga nilai yang dicapai tidak maksimal.
Yang ketiga adalah tidak terdapat kisi - kisi dan pedoman penskoran. Dengan jumlah soal tiap muatan yang tidak sama, terdapat masalah dalam memberikan penilaian bagi tiap muatan. Padahal nilai yang diminta oleh wali murid adalah nilai per muatan. Sedangkan nilai yang disyaratkan kepada guru adalah nilai per KD. Sehingga terdapat perbedaan pemahaman tentang nilai siswa. Seharusnya nilai yang diberikan memang per KD, namun tidak semua KD yang diajarkan terdapat pada soal yang diberikan pada siswa. Tambah pusing bagi guru untuk memasukkan nilai siswa yang kemudian harus diolah menjadi nilai rapor..
PENULISAN RAPOR..... heee..
sangat membingungkan dan harus butuh sosialisasi yang intensif tentang menulis dan membaca rapor deskriptif...(hanya itu yang bisa saya gambarkan untuk penulisan rapor..)
_karena memang sangat rumit dan njlimet....

_uj

Rabu, Desember 03, 2014

Ringkasan Materi dan Soal Latihan .... Itu Penting

Pelajaran yang kami dapatkan dari pelaksanaan TKM/UAS di semester satu ini adalah kebingungan siswa dalam mempelajari materi yang diujikan keesokan harinya.
Dengan kompetensi dasar yang memang diulang - ulang di tiap temanya, membuat anak terkadang kebingungan, salah satu materi akan keluar pada ulangan tema mana?
seperti itulah kebingungan siswa saya.
Karena kami ulangan harian di tiap sub tema, sedangkan UAS disusun dengan menggabungkan subtema 1 dan 2. Pastilah anak jadi bingung. hee....
Akhirnya kami mengambil jalan tengah, karena tidak mungkin untuk meminta UAS dilaksanakan tiap subtema. Kami membuatkan ringkasan materi dan soal latihan agar anak tidak kesasar dalam belajar.
Kami memberikan materi selengkap - lengkapnya. Karena memang kami tidak tahu soal apa yang akan keluar esok pagi.
Terkadang ada soal yang melenceng dari apa yang kami ajarkan. Karena mungkin pengembangan dari materi yang ada di buku guru tidak sama. Ada yang condong ke selatan, ada yang condong ke utara, macem - macem.
Kami hanya takut, anak tidak mengetahui jawaban dari soal yang disusun oleh dinas.
Memang, idealnya anak seharusnya bisa mengerjakan soal yang sesuai dengan materi. Tapi terkadang ada anak - anak spesial yang akan kebingungan jika tidak diarahkan dalam belajar. 

Perbedaan yang mencolok lainnya adalah bentuk soal. Kami selalu ulangan dengan bentuk soal isian, sedangkan UAS berbentuk pilihan ganda dan isian. Permasalahannya adalah pada penilaian...
Kami akan ceritakan di post berikutnya.

Senin, Desember 01, 2014

Jenuh mengejar target Tematik SD

Kurikulum 2013 sudah berjalan kurang lebih satu semester.
Mungkin memang belum semua kopetensi guru kami kuasai, sehingga banyak hal yang masih harus diperbaiki di semester pertama ini.
Mungkin kami belum bisa membawakan kurikulum baru ini dengan baik karena kami belum sempat membaca buku guru dengan tuntas, maklum datangnya agak terlambat.
Mungkin kami belum bisa melakukan penilaian dengan baik, karena kami belum mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan "terbatas" (baca : 7 hari) dari dinas pendidikan.
Terakhir, mungkin waktu yang ada dalam kalender pendidikan tidak cukup untuk menyelesaikan beban tematik yang ada dalam buku guru.

Tapi ketika kami mengeluh seperti itu, kami tidak akan menambah apapun dalam pembelajaran kami.
Tidak akan mengubah celetukan anak :
"Pak, kok buku tema 4 sama lima cepet banget ngajarnya?"
"Pak, kok ulangan tema terus to?"
"Pak, capek pak, kalau harus nulis sebanyak itu...."
 Memang, dimulai dari 4 Agustus 2014, beban 5 tema di kelas 5 SD agak berat.
Kemudian UTS yang dilakukan di bulan Oktober dan TKM yang dilakukan mulai hari ini, sangat luar biasa mepet untuk kami.
Hee,
Bahkan, kami belum sampai membayangkan untuk bagaimana nanti melaporkan hasil belajar siswa dengan baik.
Namun, kami sebenarnya lebih tidak tega kepada siswa kami. Karena merekalah sebenarnya yang benar - benar terbebani.
Ketika orang tua belum banyak yang bisa membantu mereka belajar di rumah, sedangkan guru mereka di sekolah belum bisa mengajar dengan baik, seperti simalakama.
Yaahhh...
Semoga saja tidak menambah dosa kami sebagai guru karea belum bisa membantu mereka belajar dengan baik di sekolah.

_curhat di pagi hari

Minggu, November 02, 2014

Soal Latihan CCA tingkat SD

Alhamdulillah, di tahun ini sekolah kami berhasil untuk mengirimkan wakil di lomba MTQ tingkat nasional. Kami berhasil membantu siswa kami di cabang CCA. Namun, menjadi PR kami selanjutnya adalah menjaga prestasi ini, agar di tahun depan adik - adik kelasnya mampu meraih prestasi yang sama. Walhasil kami membuat beberapa termin untuk mengetes dan menyeleksi calon pengganti mereka. Sebagai tes awal adalah pengetahuan umum keagamaan. Seperti tes dibawah ini!

Minggu, Oktober 26, 2014

Bingung Mencari Tontonan untuk Siswa

Alhamdulillah, sekolah kami sudah mempunyai fasilitas LCD untuk beberapa kelas. Pengadaan LCD ini bertujuan untuk mendukung proses pembelajaran. Melihat beberapa proses animasi yang berhubungan dengan materi, seperti proses terjadinya tsunami, proses terjadinya hujan asam, proses daur air, dsb, ice breaking berupa soal mencongak menggunakan power point, menunjukkan beberapa gambar pendukung dan banyak lagi yang lain.
Namun, seiring berjalannya waktu terkadang saya juga merasa kebingungan ketika "ditagih" oleh siswa untuk menonton video atau ice breaking. Ternyata di lingkungan kita lebih banyak tontonan yang kurang mendidik. Maaf ya, tontonan seperti sinetron (yang ga tamat - tamat, berseri sampai 5,6,7), komedi yang mempertontonkan aurat para artisnya, guyonan yang bersifat kasar dengan mengejek dan menyakiti satu sama lain dan masih banyak lagi,saya rasa tidak banyak manfaatnya bagi anak - anak kita.
Saya berkeinginan untuk memberikan tontonan yang baik, memberikan motivasi, memberikan pencerahan, dan membimbing sifat dan sikap anak - anak menjadi lebih baik. Memang di Indonesia juga banyak film yang baik, bebeapa yang sudah saya berikan ke anak diantaranya :
  1. Nagabonar Jadi 2
  2. Tanah Surga
  3. Perahu Kertas 1 dan 2
  4. Habibie Ainun
  5. Bangun lagi dong Lupus
  6. Garuda di Dadaku
Sebenarnya berkali - kali anak - anak meminta film yang bergenre horor. Namun horornya film Indonesia tidak begitu baik bagi mereka. Horornya mungkin 25%, sisanya adalah adegan untuk orang dewasa. Sudah banyak judul film horor yang dibuat, namun saya juga sangat jarang yang memberikan tontonan "horor". Tontonan yang membuat berteriak ketakutan, yang membuat seorang penonton merinding ketika menceritakan apa yang ditontonnya.
Saya memang lebih tertarik untuk memberikan beberapa film kartun, beberapa di antaranya :
  1. How to Train Your Dragon 1 dan 2
  2. Wall - E
  3. Cars 1 dan 2
  4. Turbo 
  5. Rattatoulie
  6. Kungfu Panda 1 dan 2
Saya juga pernah memberikan beberapa film luar negeri seperti :
  1. Three Idiots (film favorit saya) 
  2. I'm Legend
  3. Kungfu Kid
  4. I'm not Stupid 1 dan 2
  5. Taree Zameen
Namun, setelah kurang lebih 3 tahun saya mengajar, stok film saya sudah habis, saya bingung ketika saya ditagih film lagi. Saya prihatin, ternyata kita bangsa yang besar, namun ternyata kita belum bisa berswasembada dalam menyediakan sesuatu yang baik untuk anak - anak kita.
Semoga dengan adanya sedikit pengalaman saya ini memberikan motivasi yang besar untuk menyediakan tontonan yang baik bagi anak - anak kita.
_mungkin ada rekomendasi tontonan yang baik untuk anak - anak kita?

Kamis, Oktober 23, 2014

Proses membuat raport deskriptif kurikulum 2013

Anak kecil sangat suka ketika diberikan cerita. Cerita tentang apa saja. Baik cerita lucu, sedih, menyenangkan, ataupun menyedihkan. Anak - anak pun banyak yang dapat saling bertukar cerita satu sama lain. Tidak terbatas tema cerita. Mereka mengeluarkan apa yang ada di dalam benak mereka dengan sangat bebas dan tanpa batas. Terkadang tanpa bermaksud berbohong atau menipu, mereka menambahkan sendiri imajinasi mereka tentang sebuah kejadian. Atau sebenarnya itu bukan imajinasi mereka,  tapi merupakan harapan yang mampu mereka ubah menjadi sebuah cerita.
Membahas tentang cerita, salah satu konsekuensi dilaksanakannya kurikulum 2013 adalah raport deskriptif. Beberapa waktu yang lalu, seorang instruktur kurikulum 2013 memberikan panduan kepada kami untuk menulis raport deskriptif tersebut. Sejujurnya, saya sendiri masih belum bisa membayangkan raport yang harus saya tulis tersebut secara nyata. Namun bayangan beratnya bagaimana membuat raport tersebut sudah saya rasakan sekarang. Saat saya sedang koreksi UTS semester ganjil ini.
Raport deskriptif nantinya akan berbentuk sebuah cerita lengkap tentang capaian anak, baik di bidang kognitif dan spritual. Secara gampang, raport deskriptif ini nantinya akan berisi tentang bagaimana nilai yang anak capai dan bagaimana sikap anak selama pembelajaran. Cerita yang tertera di sana adalah konversi dari angka yang didapat anak di tiap kompetensi dasar tiap sub tema. Rata - rata dari nilai tersebut akan berubah menjadi kata "SUDAH SANGAT BAIK", "SUDAH BAIK" dan "BUTUH PENDAMPINGAN". Kata - kata tersebut merupakan pengganti nilai A, B, dan C gitu lah... Kalau mungkin masih sulit membayangkan. Setidaknya begini langkah yang harus kami (wali kelas) lakukan untuk memberikan nilai kepada anak :
  1. Menentukan range ( batasan ) nilai anak. Range (batasan) nilai adalah batas minimal untuk mendapatkan nilai deksriptif setelah dikonversi. Contohnya : nilai < 70 akan berubah menjadi "BUTUH PENDAMPINGAN", nilai 71 - 80 akan berubah menjadi "SUDAH BAIK", nilai > 80 akan berubah menjadi "SUDAH SANGAT BAIK".
  2. Koreksi nilai anak per sub tema. Ini adalah pekerjaan yang paling menyebalkan (setidaknya untuk saat ini. Saya sedang koreksi pekerjaan anak saya yang jumlahnya 40 anak, untuk dua tema yang masing - masing terdiri dari tiga sub tema). Hee....  
  3. Merekap seluruh nilai anak per kompetensi dasar per sub tema. Nantinya setelah nilai sudah jadi semua, harus dipisahkan tiap kompetensi dasar. Jangan sampai tercampur atau tertukar.
  4. Menghitung nilai rata - rata anak. Seandainya satu kompetensi dasar ada yang diulang dalam beberapa sub tema, harus di tulis sendiri - sendiri. Nantinya nilai yang akan dikonversi adalah bentuk rata - rata dari beberapa sub tema.
  5. Mengkonversi nilai anak ke dalam bentuk deskripsi. Pekerjaan mengkonversi nilai ini bisa dilakukan dengan bantuan beberapa software. Salah satunya adalah microsoft excell. Kami sudah bisa menyusun deskripsi ini semenjak tahun lalu.
  6. Menggabungkan konversi nilai anak dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai anak.  Setelah konversi nilai jadi, kita harus menggabungkannya dengan kompetensi dasar yang terkait. Contohnya seorang anak mendapat nilai konversi "SUDAH SANGAT BAIK" pada kompetensi dasar "Menjawab pertanyaan teks bacaan" Maka deskripsi nilai anak menjadi ANAK SUDAH SANGAT BAIK DALAM MENJAWAB PERTANYAAN TEKS BACAAN
  7. Jadilah raport deksriptif anak.... (itu baru satu KD lho.... masih banyak KD yang lain)

Repot ya??
hee..
Itu separuh pekerjaan, karena baru satu aspek, kognitif siswa. Terdapat dua aspek yang harus dinilai kan? Sikap dan kognitif...
Hampir sama lah langkahnya,,,,,
Semangat guru kreatif dan profesional...

Pentingnya evaluasi program sekolah

Hampir semua sekolah mempunyai kepala sekolahnya sendiri.
Hampir semua kepala sekolah mempunyai tangan kanannya sendiri, wakil - wakil kepala sekolah yang menjadi orang kepercayaannya dalam mengawal dan melaksanakan program - program sekolah.
Namun sudah semuakah orang - orang ini terbuka dari saran dan kritik dari orang lain?
Tidak harus dari orang lain, misalnya wali murid. Namun dari teman - temannya sendiri. Orang - orang yang bersama - sama menjejalkan diri dalam segudang aktivitas sekolah.
Terkadang terlupakan, kritik dan saran hanya berbentuk kotak kayu yang berlobang atasnya. Bahkan hampir sepanjang waktu selalu kosong.
Terkadang kritik dan saran menjadi bahan obrolan di belakang punggung para punggawa utama tersebut. Tidak pernah tersampaikan dan tidak pernah tersalurkan.
Padahal bersama kritik dan saran tersebut ada perubahan menuju perbaikan. Bersamanya pula terdapat kelegaan hati atas tersampainya segala beban dan ganjalan yang dirasa.
Bagaimana harus memulainya?
Mungkin akan sangat sulit jika kita langsung bertanya pada setiap guru apa yang kurang dari saya? Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi lebih baik? Bagaimana sebaiknya saya melakukan program ini?
Sehingga, cara termudah adalah menulisnya.
Sediakanlah kertas kosong, bagikan kepada setiap guru. Berikanlah waktu 2 atau 3 hari. Mintalah mereka menuliskan apa yang mereka rasakan, apa yang menjadi ganjalan mereka, dan apa yang menghambat kerja mereka.
Tidak mudah lho, memberikan saran kepada atasan...
Tapi kalau sudah disepakati dari awal bahwa ini diniatkan sebagai bagian dari proses perbaikan diri demi tercapainya pribadi yang lebih baik, semoga banyak masukan dan saran yang bisa diproses selanjutnya sebagai wujud nyata perbaikan diri.
Mungkin itu lebih nyata sebagai wujud evaluasi diri sendiri dan media untuk muhasabah atas segala kekurangan diri. 

Selasa, Oktober 07, 2014

Belajar, bisa dimana saja...

Kemarin, saya mengobrol dengan salah satu tetangga saya tentang pemuda - pemudi di desa kami. Dia yang merupakan salah satu penggerak pemuda - pemudi di desa kami, mengeluhkan tentang keadaan pemuda - pemudi di masa sekarang. Sangat sulit untuk diajak bekerja, kurang tanggap tentang pekerjaan yang harus dilakukan, pasif, tidak tahu sopan santun, tidak bisa berbahasa yang baik kepada orang tua, dsb.
Saya kemudian menarik kesimpulan, memang belajar itu tidak harus dari sekolah. Masyarakat juga adalah tempat belajar dan yang lebih penting adalah keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama seorang anak. Sebelum masuk TK atau SD, rumahlah yang menjadi madrasah bagi siswa untuk menimba ilmu.
Banyak anak yang tidak sekolah yang bisa berperilaku sopan dan mempunyai kepribadian yang baik begitu juga sebaliknya, banyak orang - orang yang bertitel sarjana, pasca sarjana, profesor, bahkan guru besar yang kepribadiannya tidak baik. Apakah mereka kurang ilmu, tidak sebenarnya. Mereka hanya tidak mempunyai karakter yang baik. Tidak mempunyai pedoman hidup atau ironisnya mereka tidak mendapatkan suri tauladan yang baik dari para orang "tua" yang ada di sekitarnya.
Tetangga saya, beliau lurah di tempat kami pun tidak tinggi pendidikannya. Namun beliau mempunyai karakter yang luar biasa. Sekalipun tengah malam, sekalipun jauh di ujung desa, ketika beliau mendengar ada berita kematian, beliau usahakan sesegera mungkin hadir menjadi pelayat. Beliau mungkin tidak pandai, tapi beliau cerdas dalam membawa diri dan bersikap. Satu hal yang menjadi catatan saya mengenai beliau adalah ketika beliau hadir ke tempat saudara saya yang sedang punya hajat pukul 9 malam, kemudian berkata, "Aku mau di sini sampai besok pagi, mungkin aku ga bisa membantu apa - apa tapi minimal aku ada jika dibutuhkan." Spesial kan? Beliau ini adalah seorang lurah yang kesibukannya lumayan padat, tapi dengan tetangganya beliau sangat meluangkan waktu dan perhatiannya.
Kembali ke topik semula, pembelajaran bisa di mana saja. Ya, di mana saja. Memang ilmu untuk mencari dunia itu banyak terdapat di sekolah, namun ilmu untuk hidup yang sebenarnya ada di masyarakat. Seorang remaja yang akrab dengan pekerjaannya di masyarakat tidak akan sulit untuk beradaptasi dengan siapapun. Meskipun itu lingkungan baru untuknya. Karena dia mudah untuk mencair dan mencari apa yang bisa dilakukan untuk sekitarnya. Itulah magnet seorang manusia untuk lingkungannya. Lingkungannya, walaupun baru akan segera menerima dia tanpa harus banyak berpikir.
Di daerah kami khususnya, kemampuan berbahasa yang baik kepada yang lebih tua, kemampuan untuk mengaji, kemampuan untuk membantu sesama, sama sekali tidak ada teorinya. Semuanya "learning by doing". Dipelajari karena contoh yang ada dengan bimbingan orang dewasa di sekitar kami. Sangat tidak mungkin seorang anak dengan titel tinggi sekalipun akan langsung bisa melakukannya tanpa pernah praktek langsung.
Dengan demikian, marilah kita sebagai orang - orang tua yang bertanggung jawab pada anak - anak kecil di sekitar kita untuk memberikan pelajaran dan ilmu yang baik bagi mereka. Ilmu untuk hidup. Ilmu untuk menjalani kehidupan. Minimal kita membekali mereka dengan maksimal, sehingga mereka nantinya tinggal menambah sedikit untuk menjadi pribadi yang berkepribadian baik dan berkarakter.

Senin, Oktober 06, 2014

Asyiknya Merubah Tempat Duduk Siswa

Minggu kemarin, walaupun hanya masuk 3 hari saya bereksperimen bersama anak - anak untuk merubah tempat duduk mereka sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Hasilnya lumayan. Anak - anak antusias dalam menggeser sendiri meja mereka ke sana dan kemari.  Memang, sebenarnya pembelajaran tidak harus di kelas. Tidak harus kaku, hanya duduk saja mendengarkan guru menyampaikan materi. Pembelajaran bebas... Mereka diperbolehkan duduk, berdiri, ngesot di lantai, dan banyak gaya khas anak sd lainnya.
Hari pertama saya bereksperimen untuk menata kelas dengan gaya seperti berkelompok. Saya menjadikan 40 meja di kelas saya menjadi 8 kelompok. Masing - masing 5 meja setiap kelompok. Sehingga anak mudah untuk melakukan diskusi.
Hari kedua saya mengubah lagi tempat duduk anak seperti dalam film Harry Potter. Memanjang, saling berhadapan. Masing - masing lajur berisi 5 meja. Dua meja di depan, kemudian saya berikan tempat untuk keluar anak. Bagian belakang berisi 3 meja memanjang.Hal ini saya lakukan karena anak harus ulangan sub tema, sehingga mengurangi tingkat keramaian anak ketika mengerjakan.
Hari ketiga saya ubah lagi tempat duduk anak, saya jadikan seperti ruang Sidang Paripurna DPR, berbentuk letter U. Karena hari itu, kami berencana menonton film sebagai hiburan setelah ulangan. Saya berikan kepada anak beberapa cuplikan Stand Up Comedy Kompas TV. Hasilnya memuaskan untuk satu hal ini, karena memang anak sangat senang menonton video yang bersifat komedi.
Saya berkesimpulan, bahwa kondisi kelas yang kaku, seharusnya tidak ada lagi. Semuanya bersifat fleksibel. Terkadang harus diubah, bisa spontan, bisa terencana. Agar anak tidak jenuh. Tujuan lain saya lakukan hal ini adalah menyiasati kebosanan siswa. Karena ada beberapa hari yang anak harus bertemu saya secara terus menerus selama 6 - 8 jam. Ketika pembelajaran berlangsung kaku dan tidak ada inovasi, maka anak - anak akan jenuh.

Itu sedikit pengalaman saya bersama anak - anak saya dalam mengotak - atik kelas kami.