Sabtu, Januari 03, 2015

Susahnya menilai UAS (TKM) Kurikulum 2013

Sejenak berhenti dari aktivitas pembelajaran semester ganjil yang telah selesai, kami menyisakan sebuah pertanyaan dalam menilai hasil UAS (TKM) siswa di semester ganjil. UAS (TKM) kemarin telah menerapkan kurikulum 2013. Terdapat beberapa hal yang menurut kami tidak baik untuk siswa di dalam penilaian hasil UAS tersebut.
Yang pertama adalah bentuk soal. Bentuk soal yang digunakan oleh dinas pendidikan dalam menilai kemampuan siswa adalah pilihan ganda. Secara harafiah, ketika soal yang digunakan berbentuk pilihan ganda akan terjadi selisih yang sangat besar dalam nilai yang dicapai siswa. Ketika jawaban benar akan mendapat nilai 100 dan ketika jawaban salah akan mendapat nilai 0. Bentuk soal pilihan ganda ini tidak memberikan ruang kepada siswa untuk memberikan jawabannya atas masalah yang diberikan. Padahal, aspek kritis dan kreativitas sangat dikedepankan dalam pembelajaran kurikulum 2013. Seharusnya terdapat "ruang" untuk siswa dalam mengeksplor pengetahuan yang dimilikinya. Soal yang baik menurut kami adalah soal yang mampu meminta siswa untuk memberikan tanggapan dalam situasi yang diberikan melalui soal, menyodorkan langkah penyelesaian yang sesuai dengan alur berpikir, dan mereview ulang apa yang telah dikuasai. Bentuk soal yang paling bisa melakukan itu semua adalah isian. Baik isian singkat maupun isian panjang.
Yang kedua adalah paket soal subtema 1 dan subtema 2. Pelaksanaan UAS semester ganjil kemarin menggunakan paket soal subtema 1 dan 2 yang digabung. Alasannya kami kurang tahu, ada yang bilang untuk efisiensi waktu dan anggaran, ada yang bilang kalau indikator KD yang mirip di dua subtema tersebut, entahlah.. Bagi siswa, terkadang kebingungan dalam belajar karena materi terlalu banyak. Sehingga nilai yang dicapai tidak maksimal.
Yang ketiga adalah tidak terdapat kisi - kisi dan pedoman penskoran. Dengan jumlah soal tiap muatan yang tidak sama, terdapat masalah dalam memberikan penilaian bagi tiap muatan. Padahal nilai yang diminta oleh wali murid adalah nilai per muatan. Sedangkan nilai yang disyaratkan kepada guru adalah nilai per KD. Sehingga terdapat perbedaan pemahaman tentang nilai siswa. Seharusnya nilai yang diberikan memang per KD, namun tidak semua KD yang diajarkan terdapat pada soal yang diberikan pada siswa. Tambah pusing bagi guru untuk memasukkan nilai siswa yang kemudian harus diolah menjadi nilai rapor..
PENULISAN RAPOR..... heee..
sangat membingungkan dan harus butuh sosialisasi yang intensif tentang menulis dan membaca rapor deskriptif...(hanya itu yang bisa saya gambarkan untuk penulisan rapor..)
_karena memang sangat rumit dan njlimet....

_uj

Rabu, Desember 03, 2014

Ringkasan Materi dan Soal Latihan .... Itu Penting

Pelajaran yang kami dapatkan dari pelaksanaan TKM/UAS di semester satu ini adalah kebingungan siswa dalam mempelajari materi yang diujikan keesokan harinya.
Dengan kompetensi dasar yang memang diulang - ulang di tiap temanya, membuat anak terkadang kebingungan, salah satu materi akan keluar pada ulangan tema mana?
seperti itulah kebingungan siswa saya.
Karena kami ulangan harian di tiap sub tema, sedangkan UAS disusun dengan menggabungkan subtema 1 dan 2. Pastilah anak jadi bingung. hee....
Akhirnya kami mengambil jalan tengah, karena tidak mungkin untuk meminta UAS dilaksanakan tiap subtema. Kami membuatkan ringkasan materi dan soal latihan agar anak tidak kesasar dalam belajar.
Kami memberikan materi selengkap - lengkapnya. Karena memang kami tidak tahu soal apa yang akan keluar esok pagi.
Terkadang ada soal yang melenceng dari apa yang kami ajarkan. Karena mungkin pengembangan dari materi yang ada di buku guru tidak sama. Ada yang condong ke selatan, ada yang condong ke utara, macem - macem.
Kami hanya takut, anak tidak mengetahui jawaban dari soal yang disusun oleh dinas.
Memang, idealnya anak seharusnya bisa mengerjakan soal yang sesuai dengan materi. Tapi terkadang ada anak - anak spesial yang akan kebingungan jika tidak diarahkan dalam belajar. 

Perbedaan yang mencolok lainnya adalah bentuk soal. Kami selalu ulangan dengan bentuk soal isian, sedangkan UAS berbentuk pilihan ganda dan isian. Permasalahannya adalah pada penilaian...
Kami akan ceritakan di post berikutnya.

Senin, Desember 01, 2014

Jenuh mengejar target Tematik SD

Kurikulum 2013 sudah berjalan kurang lebih satu semester.
Mungkin memang belum semua kopetensi guru kami kuasai, sehingga banyak hal yang masih harus diperbaiki di semester pertama ini.
Mungkin kami belum bisa membawakan kurikulum baru ini dengan baik karena kami belum sempat membaca buku guru dengan tuntas, maklum datangnya agak terlambat.
Mungkin kami belum bisa melakukan penilaian dengan baik, karena kami belum mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan "terbatas" (baca : 7 hari) dari dinas pendidikan.
Terakhir, mungkin waktu yang ada dalam kalender pendidikan tidak cukup untuk menyelesaikan beban tematik yang ada dalam buku guru.

Tapi ketika kami mengeluh seperti itu, kami tidak akan menambah apapun dalam pembelajaran kami.
Tidak akan mengubah celetukan anak :
"Pak, kok buku tema 4 sama lima cepet banget ngajarnya?"
"Pak, kok ulangan tema terus to?"
"Pak, capek pak, kalau harus nulis sebanyak itu...."
 Memang, dimulai dari 4 Agustus 2014, beban 5 tema di kelas 5 SD agak berat.
Kemudian UTS yang dilakukan di bulan Oktober dan TKM yang dilakukan mulai hari ini, sangat luar biasa mepet untuk kami.
Hee,
Bahkan, kami belum sampai membayangkan untuk bagaimana nanti melaporkan hasil belajar siswa dengan baik.
Namun, kami sebenarnya lebih tidak tega kepada siswa kami. Karena merekalah sebenarnya yang benar - benar terbebani.
Ketika orang tua belum banyak yang bisa membantu mereka belajar di rumah, sedangkan guru mereka di sekolah belum bisa mengajar dengan baik, seperti simalakama.
Yaahhh...
Semoga saja tidak menambah dosa kami sebagai guru karea belum bisa membantu mereka belajar dengan baik di sekolah.

_curhat di pagi hari

Minggu, November 02, 2014

Soal Latihan CCA tingkat SD

Alhamdulillah, di tahun ini sekolah kami berhasil untuk mengirimkan wakil di lomba MTQ tingkat nasional. Kami berhasil membantu siswa kami di cabang CCA. Namun, menjadi PR kami selanjutnya adalah menjaga prestasi ini, agar di tahun depan adik - adik kelasnya mampu meraih prestasi yang sama. Walhasil kami membuat beberapa termin untuk mengetes dan menyeleksi calon pengganti mereka. Sebagai tes awal adalah pengetahuan umum keagamaan. Seperti tes dibawah ini!

Minggu, Oktober 26, 2014

Bingung Mencari Tontonan untuk Siswa

Alhamdulillah, sekolah kami sudah mempunyai fasilitas LCD untuk beberapa kelas. Pengadaan LCD ini bertujuan untuk mendukung proses pembelajaran. Melihat beberapa proses animasi yang berhubungan dengan materi, seperti proses terjadinya tsunami, proses terjadinya hujan asam, proses daur air, dsb, ice breaking berupa soal mencongak menggunakan power point, menunjukkan beberapa gambar pendukung dan banyak lagi yang lain.
Namun, seiring berjalannya waktu terkadang saya juga merasa kebingungan ketika "ditagih" oleh siswa untuk menonton video atau ice breaking. Ternyata di lingkungan kita lebih banyak tontonan yang kurang mendidik. Maaf ya, tontonan seperti sinetron (yang ga tamat - tamat, berseri sampai 5,6,7), komedi yang mempertontonkan aurat para artisnya, guyonan yang bersifat kasar dengan mengejek dan menyakiti satu sama lain dan masih banyak lagi,saya rasa tidak banyak manfaatnya bagi anak - anak kita.
Saya berkeinginan untuk memberikan tontonan yang baik, memberikan motivasi, memberikan pencerahan, dan membimbing sifat dan sikap anak - anak menjadi lebih baik. Memang di Indonesia juga banyak film yang baik, bebeapa yang sudah saya berikan ke anak diantaranya :
  1. Nagabonar Jadi 2
  2. Tanah Surga
  3. Perahu Kertas 1 dan 2
  4. Habibie Ainun
  5. Bangun lagi dong Lupus
  6. Garuda di Dadaku
Sebenarnya berkali - kali anak - anak meminta film yang bergenre horor. Namun horornya film Indonesia tidak begitu baik bagi mereka. Horornya mungkin 25%, sisanya adalah adegan untuk orang dewasa. Sudah banyak judul film horor yang dibuat, namun saya juga sangat jarang yang memberikan tontonan "horor". Tontonan yang membuat berteriak ketakutan, yang membuat seorang penonton merinding ketika menceritakan apa yang ditontonnya.
Saya memang lebih tertarik untuk memberikan beberapa film kartun, beberapa di antaranya :
  1. How to Train Your Dragon 1 dan 2
  2. Wall - E
  3. Cars 1 dan 2
  4. Turbo 
  5. Rattatoulie
  6. Kungfu Panda 1 dan 2
Saya juga pernah memberikan beberapa film luar negeri seperti :
  1. Three Idiots (film favorit saya) 
  2. I'm Legend
  3. Kungfu Kid
  4. I'm not Stupid 1 dan 2
  5. Taree Zameen
Namun, setelah kurang lebih 3 tahun saya mengajar, stok film saya sudah habis, saya bingung ketika saya ditagih film lagi. Saya prihatin, ternyata kita bangsa yang besar, namun ternyata kita belum bisa berswasembada dalam menyediakan sesuatu yang baik untuk anak - anak kita.
Semoga dengan adanya sedikit pengalaman saya ini memberikan motivasi yang besar untuk menyediakan tontonan yang baik bagi anak - anak kita.
_mungkin ada rekomendasi tontonan yang baik untuk anak - anak kita?

Kamis, Oktober 23, 2014

Proses membuat raport deskriptif kurikulum 2013

Anak kecil sangat suka ketika diberikan cerita. Cerita tentang apa saja. Baik cerita lucu, sedih, menyenangkan, ataupun menyedihkan. Anak - anak pun banyak yang dapat saling bertukar cerita satu sama lain. Tidak terbatas tema cerita. Mereka mengeluarkan apa yang ada di dalam benak mereka dengan sangat bebas dan tanpa batas. Terkadang tanpa bermaksud berbohong atau menipu, mereka menambahkan sendiri imajinasi mereka tentang sebuah kejadian. Atau sebenarnya itu bukan imajinasi mereka,  tapi merupakan harapan yang mampu mereka ubah menjadi sebuah cerita.
Membahas tentang cerita, salah satu konsekuensi dilaksanakannya kurikulum 2013 adalah raport deskriptif. Beberapa waktu yang lalu, seorang instruktur kurikulum 2013 memberikan panduan kepada kami untuk menulis raport deskriptif tersebut. Sejujurnya, saya sendiri masih belum bisa membayangkan raport yang harus saya tulis tersebut secara nyata. Namun bayangan beratnya bagaimana membuat raport tersebut sudah saya rasakan sekarang. Saat saya sedang koreksi UTS semester ganjil ini.
Raport deskriptif nantinya akan berbentuk sebuah cerita lengkap tentang capaian anak, baik di bidang kognitif dan spritual. Secara gampang, raport deskriptif ini nantinya akan berisi tentang bagaimana nilai yang anak capai dan bagaimana sikap anak selama pembelajaran. Cerita yang tertera di sana adalah konversi dari angka yang didapat anak di tiap kompetensi dasar tiap sub tema. Rata - rata dari nilai tersebut akan berubah menjadi kata "SUDAH SANGAT BAIK", "SUDAH BAIK" dan "BUTUH PENDAMPINGAN". Kata - kata tersebut merupakan pengganti nilai A, B, dan C gitu lah... Kalau mungkin masih sulit membayangkan. Setidaknya begini langkah yang harus kami (wali kelas) lakukan untuk memberikan nilai kepada anak :
  1. Menentukan range ( batasan ) nilai anak. Range (batasan) nilai adalah batas minimal untuk mendapatkan nilai deksriptif setelah dikonversi. Contohnya : nilai < 70 akan berubah menjadi "BUTUH PENDAMPINGAN", nilai 71 - 80 akan berubah menjadi "SUDAH BAIK", nilai > 80 akan berubah menjadi "SUDAH SANGAT BAIK".
  2. Koreksi nilai anak per sub tema. Ini adalah pekerjaan yang paling menyebalkan (setidaknya untuk saat ini. Saya sedang koreksi pekerjaan anak saya yang jumlahnya 40 anak, untuk dua tema yang masing - masing terdiri dari tiga sub tema). Hee....  
  3. Merekap seluruh nilai anak per kompetensi dasar per sub tema. Nantinya setelah nilai sudah jadi semua, harus dipisahkan tiap kompetensi dasar. Jangan sampai tercampur atau tertukar.
  4. Menghitung nilai rata - rata anak. Seandainya satu kompetensi dasar ada yang diulang dalam beberapa sub tema, harus di tulis sendiri - sendiri. Nantinya nilai yang akan dikonversi adalah bentuk rata - rata dari beberapa sub tema.
  5. Mengkonversi nilai anak ke dalam bentuk deskripsi. Pekerjaan mengkonversi nilai ini bisa dilakukan dengan bantuan beberapa software. Salah satunya adalah microsoft excell. Kami sudah bisa menyusun deskripsi ini semenjak tahun lalu.
  6. Menggabungkan konversi nilai anak dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai anak.  Setelah konversi nilai jadi, kita harus menggabungkannya dengan kompetensi dasar yang terkait. Contohnya seorang anak mendapat nilai konversi "SUDAH SANGAT BAIK" pada kompetensi dasar "Menjawab pertanyaan teks bacaan" Maka deskripsi nilai anak menjadi ANAK SUDAH SANGAT BAIK DALAM MENJAWAB PERTANYAAN TEKS BACAAN
  7. Jadilah raport deksriptif anak.... (itu baru satu KD lho.... masih banyak KD yang lain)

Repot ya??
hee..
Itu separuh pekerjaan, karena baru satu aspek, kognitif siswa. Terdapat dua aspek yang harus dinilai kan? Sikap dan kognitif...
Hampir sama lah langkahnya,,,,,
Semangat guru kreatif dan profesional...

Pentingnya evaluasi program sekolah

Hampir semua sekolah mempunyai kepala sekolahnya sendiri.
Hampir semua kepala sekolah mempunyai tangan kanannya sendiri, wakil - wakil kepala sekolah yang menjadi orang kepercayaannya dalam mengawal dan melaksanakan program - program sekolah.
Namun sudah semuakah orang - orang ini terbuka dari saran dan kritik dari orang lain?
Tidak harus dari orang lain, misalnya wali murid. Namun dari teman - temannya sendiri. Orang - orang yang bersama - sama menjejalkan diri dalam segudang aktivitas sekolah.
Terkadang terlupakan, kritik dan saran hanya berbentuk kotak kayu yang berlobang atasnya. Bahkan hampir sepanjang waktu selalu kosong.
Terkadang kritik dan saran menjadi bahan obrolan di belakang punggung para punggawa utama tersebut. Tidak pernah tersampaikan dan tidak pernah tersalurkan.
Padahal bersama kritik dan saran tersebut ada perubahan menuju perbaikan. Bersamanya pula terdapat kelegaan hati atas tersampainya segala beban dan ganjalan yang dirasa.
Bagaimana harus memulainya?
Mungkin akan sangat sulit jika kita langsung bertanya pada setiap guru apa yang kurang dari saya? Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi lebih baik? Bagaimana sebaiknya saya melakukan program ini?
Sehingga, cara termudah adalah menulisnya.
Sediakanlah kertas kosong, bagikan kepada setiap guru. Berikanlah waktu 2 atau 3 hari. Mintalah mereka menuliskan apa yang mereka rasakan, apa yang menjadi ganjalan mereka, dan apa yang menghambat kerja mereka.
Tidak mudah lho, memberikan saran kepada atasan...
Tapi kalau sudah disepakati dari awal bahwa ini diniatkan sebagai bagian dari proses perbaikan diri demi tercapainya pribadi yang lebih baik, semoga banyak masukan dan saran yang bisa diproses selanjutnya sebagai wujud nyata perbaikan diri.
Mungkin itu lebih nyata sebagai wujud evaluasi diri sendiri dan media untuk muhasabah atas segala kekurangan diri. 

Selasa, Oktober 07, 2014

Belajar, bisa dimana saja...

Kemarin, saya mengobrol dengan salah satu tetangga saya tentang pemuda - pemudi di desa kami. Dia yang merupakan salah satu penggerak pemuda - pemudi di desa kami, mengeluhkan tentang keadaan pemuda - pemudi di masa sekarang. Sangat sulit untuk diajak bekerja, kurang tanggap tentang pekerjaan yang harus dilakukan, pasif, tidak tahu sopan santun, tidak bisa berbahasa yang baik kepada orang tua, dsb.
Saya kemudian menarik kesimpulan, memang belajar itu tidak harus dari sekolah. Masyarakat juga adalah tempat belajar dan yang lebih penting adalah keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama seorang anak. Sebelum masuk TK atau SD, rumahlah yang menjadi madrasah bagi siswa untuk menimba ilmu.
Banyak anak yang tidak sekolah yang bisa berperilaku sopan dan mempunyai kepribadian yang baik begitu juga sebaliknya, banyak orang - orang yang bertitel sarjana, pasca sarjana, profesor, bahkan guru besar yang kepribadiannya tidak baik. Apakah mereka kurang ilmu, tidak sebenarnya. Mereka hanya tidak mempunyai karakter yang baik. Tidak mempunyai pedoman hidup atau ironisnya mereka tidak mendapatkan suri tauladan yang baik dari para orang "tua" yang ada di sekitarnya.
Tetangga saya, beliau lurah di tempat kami pun tidak tinggi pendidikannya. Namun beliau mempunyai karakter yang luar biasa. Sekalipun tengah malam, sekalipun jauh di ujung desa, ketika beliau mendengar ada berita kematian, beliau usahakan sesegera mungkin hadir menjadi pelayat. Beliau mungkin tidak pandai, tapi beliau cerdas dalam membawa diri dan bersikap. Satu hal yang menjadi catatan saya mengenai beliau adalah ketika beliau hadir ke tempat saudara saya yang sedang punya hajat pukul 9 malam, kemudian berkata, "Aku mau di sini sampai besok pagi, mungkin aku ga bisa membantu apa - apa tapi minimal aku ada jika dibutuhkan." Spesial kan? Beliau ini adalah seorang lurah yang kesibukannya lumayan padat, tapi dengan tetangganya beliau sangat meluangkan waktu dan perhatiannya.
Kembali ke topik semula, pembelajaran bisa di mana saja. Ya, di mana saja. Memang ilmu untuk mencari dunia itu banyak terdapat di sekolah, namun ilmu untuk hidup yang sebenarnya ada di masyarakat. Seorang remaja yang akrab dengan pekerjaannya di masyarakat tidak akan sulit untuk beradaptasi dengan siapapun. Meskipun itu lingkungan baru untuknya. Karena dia mudah untuk mencair dan mencari apa yang bisa dilakukan untuk sekitarnya. Itulah magnet seorang manusia untuk lingkungannya. Lingkungannya, walaupun baru akan segera menerima dia tanpa harus banyak berpikir.
Di daerah kami khususnya, kemampuan berbahasa yang baik kepada yang lebih tua, kemampuan untuk mengaji, kemampuan untuk membantu sesama, sama sekali tidak ada teorinya. Semuanya "learning by doing". Dipelajari karena contoh yang ada dengan bimbingan orang dewasa di sekitar kami. Sangat tidak mungkin seorang anak dengan titel tinggi sekalipun akan langsung bisa melakukannya tanpa pernah praktek langsung.
Dengan demikian, marilah kita sebagai orang - orang tua yang bertanggung jawab pada anak - anak kecil di sekitar kita untuk memberikan pelajaran dan ilmu yang baik bagi mereka. Ilmu untuk hidup. Ilmu untuk menjalani kehidupan. Minimal kita membekali mereka dengan maksimal, sehingga mereka nantinya tinggal menambah sedikit untuk menjadi pribadi yang berkepribadian baik dan berkarakter.

Senin, Oktober 06, 2014

Asyiknya Merubah Tempat Duduk Siswa

Minggu kemarin, walaupun hanya masuk 3 hari saya bereksperimen bersama anak - anak untuk merubah tempat duduk mereka sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Hasilnya lumayan. Anak - anak antusias dalam menggeser sendiri meja mereka ke sana dan kemari.  Memang, sebenarnya pembelajaran tidak harus di kelas. Tidak harus kaku, hanya duduk saja mendengarkan guru menyampaikan materi. Pembelajaran bebas... Mereka diperbolehkan duduk, berdiri, ngesot di lantai, dan banyak gaya khas anak sd lainnya.
Hari pertama saya bereksperimen untuk menata kelas dengan gaya seperti berkelompok. Saya menjadikan 40 meja di kelas saya menjadi 8 kelompok. Masing - masing 5 meja setiap kelompok. Sehingga anak mudah untuk melakukan diskusi.
Hari kedua saya mengubah lagi tempat duduk anak seperti dalam film Harry Potter. Memanjang, saling berhadapan. Masing - masing lajur berisi 5 meja. Dua meja di depan, kemudian saya berikan tempat untuk keluar anak. Bagian belakang berisi 3 meja memanjang.Hal ini saya lakukan karena anak harus ulangan sub tema, sehingga mengurangi tingkat keramaian anak ketika mengerjakan.
Hari ketiga saya ubah lagi tempat duduk anak, saya jadikan seperti ruang Sidang Paripurna DPR, berbentuk letter U. Karena hari itu, kami berencana menonton film sebagai hiburan setelah ulangan. Saya berikan kepada anak beberapa cuplikan Stand Up Comedy Kompas TV. Hasilnya memuaskan untuk satu hal ini, karena memang anak sangat senang menonton video yang bersifat komedi.
Saya berkesimpulan, bahwa kondisi kelas yang kaku, seharusnya tidak ada lagi. Semuanya bersifat fleksibel. Terkadang harus diubah, bisa spontan, bisa terencana. Agar anak tidak jenuh. Tujuan lain saya lakukan hal ini adalah menyiasati kebosanan siswa. Karena ada beberapa hari yang anak harus bertemu saya secara terus menerus selama 6 - 8 jam. Ketika pembelajaran berlangsung kaku dan tidak ada inovasi, maka anak - anak akan jenuh.

Itu sedikit pengalaman saya bersama anak - anak saya dalam mengotak - atik kelas kami.

Senin, September 29, 2014

Nilai itu tidak menakutkan

Besok pagi, siswa dan siswi saya akan melaksanakan ulangan sub tema 2 untuk tema 2 di kelas 5. Ulangan ketiga sebelum UTS yang besok diadakan pertengahan Oktober. Saya kira persiapan yang harus saya berikan kepada anak sudah cukup. Mulai dari catatan, contoh soal, dan latihan ulangan sudah saya berikan kepada anak. Kesemuanya sudah saya jadikan satu dalam map yang memang menjadi hak anak untuk menyimpannya. Sekaligus tentunya sebagai bahan evaluasi wali murid dalam melihat perkembangan putra - putrinya.
Mungkin untuk urusan nilai anak, itu saya serahkan pada persiapan anak itu sendiri. Namun kebetulan seorang wali murid baru saja menelepon saya, menanyakan tentang nilai anaknya. Dia tidak tahu anaknya mendapatkan nilai berapa di ulangan yang lalu.
Saya tertegun. Mendengar penuturan beliau. Sang anak ternyata malu ketika harus menyerahkan ulangan yang nilainya tidak baik. Mungkin takut katanya.
Saya kemudian menyimpulkan bahwa komunikasi saya dan wali murid akan terputus jika anak bersikap seperti ini seterusnya.Seakan - akan nilai itu menjadi momok yang sangat besar. Padahal sebenarnya nilai tersebut akan menjadi acuan yang sangat penting untuk menentukan bantuan yang tepat bagi anak tersebut.
Contoh saja, di kurikulum tematik, satu kali ulangan anak akan mendapatkan minimal 5 muatan pelajaran yang digabungkan dalam satu sub tema.
Ambillah sebagai berikut,  seorang anak mendapatkan nilai seperti dalam tabel berikut dalam suatu ulangan sub tema
Bahasa Indonesia 60
Matematika 70
IPA 100
IPS 90
PPKn 85

Nilai di atas sangat mungkin dicapai anak, seorang anak mungkin tidak bisa menguasai seluruh muatan yang ada, namun dia mempunyai keunggulan di beberapa muatan dan membutuhkan bimbingan di beberapa muatan lainnya.
Hasil dari ulangan sub tema ini harus menjadi acuan bagi guru dan wali murid untuk memberikan bantuan kepada siswa pada muatan yang masih belum baik. Nantinya bimbingan itu dapat dilihat di ulangan sub tema berikutnya. Karena otomatis muatan tersebut juga akan selalu ada di setiap ulangan sub tema.

Menyikapi hal ini, seorang wali murid tidaklah perlu risau tentang nilai yang dicapai anak dalam suatu ulangan sub tema. Hanya, wali murid haruslah jeli dan tanggap untuk membantu kesulitan putra - putrinya. Hal ini dikarenakan sekarang wali murid dan wali kelas harus selalu bisa bertukar peran menjadi guru bagi seorang anak. Agar anak tersebut bisa mendapatkan prestasi yang terbaik.

Sabtu, September 27, 2014

Bimbel... Penting ga sich?

Saya, dan beberapa teman saya adalah pengurus sebuah rumah belajar di Yogyakarta. Saya baru selesai "rapat" di sebuah rumah makan untuk membahas strategi pelayanan kami satu semester ke depan. "Rapat" kami memang asyik.. yang penting makan... hasil rapat bisa dibahas setelah kenyang... heee..
Jauh sebelum semester baru di kurikulum 2013, saya sempat bertanya sembari berkelakar dengan teman - teman saya, apakah penting les itu? Karena kebetulan kami melayani tambahan belajar untuk siswa SD dan SMP. SD kan sekarang tematik. Bagaimana ngelesnya??
Menarik sekali, saya sangat menunggu bagaimana evolusi dari rumah - rumah belajar yang besar menyikapi perubahan kurikulum ini. Karena otomatis, pembelajaran yang diamanatkan di kurikulum ini sangat berbeda. Siswa banyak bergerak, banyak mencari sendiri, menyimpulkan sendiri, dan menganalisis permasalah yang ada.
Sedangkan selama ini siswa duduk, menerima pelajaran, mengerjakan latihan, kemudian ulangan. Ya,,, urutannya kurang lebih seperti itu. Saya sangat menunggu di mana rumah belajar akan mengambil porsinya dalam urutan itu. Dengan pembelajaran tematik, otomatis mata pelajaran dihapuskan. Hanya muatannya yang tersisa. Itupun tergabung dan bersatu dengan muatan yang lain.
Sebagai contoh sederhana dari pembelajaran yang saya lakukan di kelas 5.
Saya memberikan bacaan tentang pentingnya air. Di sana tersurat apa saja fungsi air, apa yang terjadi jika air tidak ada, apa saja sumber air, bagaimana cara merawat sumber air agar tetap lestari, dan bagaimana cara menggunakan air secara bijak. Terlihat bukan, bahwa bacaan yang tadinya melulu bermuatan Bahasa Indonesia sudah saya gabungkan dengan muatan IPA.
Bagaimana menilainya?
Gampang....
Saya membuat beberapa pertanyaan tentang bacaan tersebut. Kemudian meminta anak menjawabnya dengan jawaban singkat, sesuai dengan isi bacaan. Ini saya lakukan untuk menilai kemampuan memahami isi teks bacaan [ Bahasa Indonesia ]. Secara tidak langsung, kemudian saya mengajak anak- anak memahami lagi isi teks bacaan tersebut. Saya kemudian meminta anak menulis di buku tulis catatan tematiknya. Saya hanya akan menulis pointernya saja.

Sumber Air
Fungsi Air
Cara Menjaga Sumber Air agar Tidak Tercemar
Cara Menggunakan Air Secara Bijak
(semuanya ada di bacaan) anak tinggal memindahkannya.
Kemudian, saya tambah satu pointer lagi.
Perilaku yang Dapat Merusak Kelestarian Sumber Air

Pointer terakhir ini saya minta siswa saya mendiskusikan dengan teman sekelompoknya.
Selesai... anak secara langsung mendapatkan muatan IPA di sini. Anak secara langsung juga mempunyai catatan tentang Air.
Belum selesai di situ, saya kemudian mengambil botol minum anak, saya tuang air dari botol tersebut ke dalam gelas yang saya siapkan. Pertama saya penuhi gelas saya dengan air secara pelan. Saya meminta anak menghitung dengan hitungan seperti pemanasan di olahraga.
Setelah penuh, saya kembalikan air ke dalam botol anak, kemudian saya ulangi kegiatan mengisi gelas dengan air, namun kali ini lebih cepat.
Masuklah saya pada muatan MATEMATIKA, yaitu tentang debit air.

Heee...
Itulah yang saya lakukan di pembelajaran.
Kemudian. di rumah belajar, dimana mereka bisa masuk?
apakah mengulang pembelajaran yang saya lakukan di sekolah?
Apakah itu akan efektif, mengingat, anak tidak akan setiap hari les sedangkan pembelajaran setiap hari selalu berlanjut?
Atau mereka hanya akan berlatih soal terus menerus setiap kali les? Padahal anak sudah punya khusus buku latihan soal dari sekolah. 
Itu pikiran awam saya sich.
Memang seharusnya, anak itu selesai menyerap semua yang penting untuknya di sekolah. Setelah itu, di rumah, mereka mendapatkan PR yang sesuai. Mengerjakannya bersama orang tuanya saja. Kenapa bersama orang tuanya? Karena memang merekalah guru di rumah. Tidak perlu orang lain, cukup orang tuanya saja.
Anak jadi pinter, orang tua juga tambah pinter...

SO, masih pentingkah Bimbingan Belajar?

_ketika menulis ini, kami juga sebenarnya sedang bingung, bagaimana bimbel kami bisa membantu siswa - siswi bimbingan kami.
_heee

Jumat, September 26, 2014

Antara bahagia dan miris

"Pak, aku ntar ga ikut ekstra ya,,"
"Kenapa mas?
"Aku mau nonton bola di stadion"
"Waduh,, ntar gimana dong ekstranya?"
"Ga papa pak, cuma sekali ini"

Jawaban siswa ini sedikit membuat saya tercenung untuk sesaat. Begitu besarnya efek dari sepak bola terhadap seorang siswa. Berhenti di sini, sebagai seorang yang juga menggemari bola, saya bahagia. Alhamdulillah,, ternyata sekarang sepak bola adalah milik semua orang, minimal untuk anak - anak. Dan fenomena ini ternyata tidak hanya pada satu dua siswa, namun banyak siswa saya yang rela meninggalkan aktivitasnya sekian kali dalam satu bulan untuk menonton sepak bola di stadion.
Benar - benar sesuatu yang luar biasa untuk saya.
Kemudian obrolan kami berlanjut,

"Mas, apa yang paling menarik dari pertandingan sepak bola di stadion?"
"Rame pak, asyik. banyak temennya. Ya emang ga begitu jelas sich, tapi asyik kalau gol. Apalagi menang. pawainya rame."
"Pawai? Di jalan raya gitu?"
"Iya pak,, kayak kampanye"
"Enak ya, mas? Eh, mas kalau nonton bola sama siapa? Bapak ya?"
"Engga pak, sama temen, naek motor dia, asyik wis"
deg.. waduh.. dalam hati
"Emang temenmu anak SMA?"
"Iya pak, tetangga"
"Owh, kirain, temen seangkatan kamu... Terus, apa lagi yang enak kalau nonton bola di stadion?"
"Berantemnya pak!!!"
hahhh????
"Iya pak, asyik. Apalagi kalau tribun timur penuh. Tapi pas kalah, ya berantem jadinya."
"Asyiknya di mana mas kalau berantem gitu?"
"Yo asyik to pak, apalagi kalau sama *** (menyebutkan tim sekota kami). Belum apa – apa aja bisa berantem duluan.”
Walahhhh...
Rasanya seperti dibanting setelah dibumbungkan tinggi ke atas langit. Rasa senang yang begitu tinggi terhadap sepak bola langsung dibenamkan dalam – dalam oleh jawaban siswa saya ini.
Saya cuma bisa diam, percakapan kami langsung saya ganti dengan pelajaran lagi. Karena saya bingung, apa lagi yang harus saya katakan pada siswa saya ini.
Saya yakin, tujuan dari diadakannya sepak bola adalah rasa kagum saya atas jawaban siswa saya sebelum rasa kecewa saya atas jawaban siswa saya. Namun, mungkin inilah yang terjadi. Inilah kenyataannya.
Anak – anak kecil, dibonceng dengan membawa slayer, bendera yang bertiang bambu, tanpa helm, dan naik motor yang suaranya naudzubillahimindzalik kerasnya.
Anak – anak kecil, secara langsung melihat ketidakdewasaan orang – orang yang “tua” di sekitarnya. Tidak dewasa dalam menyikapi kekalahan. Tidak dewasa dalam melihat orang yang sudah terlanjur dicap “lawan”.
Anak – anak kecil, secara langsung melihat keasyikan dari kekerasan, yang lagi – lagi dilakukan oleh para orang “tua” yang sama sekali tidak ada contoh baik di dalamnya.

Mari, kalau kita memang orang “tua” yang ada di sekitar anak – anak itu, minimal....
Berikanlah contoh yang baik...
Bagiamana menyikapi kekalahan
Bagaimana menyikapi tidak terwujudnya keinginan
Bagaimana bersabar dalam menyikapi keadaan yang terjadi
Bagaimana bersikap dan mematuhi peraturan lalu lintas..
Dan banyak lagi sikap baik yang bisa kita berikan pada anak – anak di sekitar kita....

Anak – anak kita berhak mendapatkan contoh yang paling baik untuk mereka, bukan contoh yang baik menurut kita.


Minggu, Juli 27, 2014

Ashabul Kahfi

Saya sedang berusaha untuk menghafalkan surat ke 18 dalam Al Quran. Surat Al Kahfi. Semoga Allah meridhoi...
Di dalam surat ini, dijelaskan tentang cerita para pemuda sholeh yang mencoba menyelamatkan diri dari rajanya yang kejam.
Dari suatu sumber yang baik, dari salah seorang sahabat yang telah mengutip dari kitab Fadha ‘ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad. Beliau menjelaskan bahwa para pemuda tersebut berjumlah enam orang yang bernama Tamlikha, Miksalmina, Mikhaslimina, Martelius, Casitius dan Sidemius

Selasa, Juli 22, 2014

Cerdas Cermat Anak Jenius_Catatan khusus kegiatan ramadhan SD Muhammadiyah Sleman

Begitu banyak piala yang berjejer di sekolah kami, sebuah rak besar hampir tidak cukup lagi untuk menampung semua piala prestasi siswa. Walhasil bagian atas lemari TU, ruang kepala sekolah, dan meja guru menjadi tempat mereka bersemayam. Semua itu adalah hasil kerja siswa - siswa yang berprestasi. ITU BENAR....

Jumat, Mei 09, 2014

Belajar mencari jaring - jaring bangun ruang

Beberapa waktu yang lalu saya mengajarkan kepada anak membuat jaring - jaring bangun ruang kubus dan balok dengan menggunakan milimeter blok. Hasilnya?
Lucu juga...
Anak - anak berkreasi sendiri
in foto - fotonya ....













modalnya murah...
semoga mampu menumbuhkan kreatifitas mencari jaring - jaring bangun ruang.